Minggu, 06 November 2011

Dialog Rasulullah dengan Kijang

Assalamu'alaikum.
Selamat Hari Raya Idul Adha kawan.


Kisah Islamiah pada malam ini tentang dialog Rasululah SAW dengan seekor kijang.
Nabi Muhammad SAW memang telah dianugerahi dengan banyak mukjizat yang luar biasa. Selain mukjizat terbesar berupa Al Qur'an atau mampu membelah bulan, Rasul juga mengerti bahasa binatang seperti Nabi Sulaiman as, salah satunya adalah hewan yang bernama kijang.

Kisahnya.
Diriwayatkan oleh Abu Na'im di dalam kitab Al-Hilyah, bahwa seorang laki-laki tengah lewat di sisi Nabi Muhammad SAW dengan membawa seekor kijang hasil tangkapannya. Lalu Allah SWT yang berkuasa atas semua makhluk-Nya, telah menjadikan kijang itu berbicara kepada Nabi Muhammad SAW.

"Wahai Pesuruh Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menyusu, dan sekarang aku sudah ditangkap sedangkan anak-anakku kelaparan," kata kijang itu meminta belas kasihan.

Kijang Mengadu.
Rasulullah SAW yang mampu mengerti bahasa kijang itu lantas berdialog dengan si kijang.
"Apakah yang engkau harapkan dariku?" tanya Rasulullah SAW.
"Tolong perintahkan orang ini melepaskan aku supaya aku dapat menyusukan anak-anakku dan sesudah itu aku akan kembali kemari," janji kijang itu dengan sangat memohon.

"Bagaimana kalau engkau tidak kembali lagi ke sini?" tutur Rasululah SAW.
"Kalau aku tidak kembali kemari, nanti Allah SWT akan melaknatku sebagaimana ia melaknat orang yang tidak mengucapkan shalawat bagi engkau apabila disebut nama engkau di sisinya," janji kijang itu.

Lalu Nabi Muhammad SAW pun bersabda kepada orang itu untuk melepaskan kijang itu buat sementara waktu.
"Wahai pemuda, lepaskanlah kijang ini, dan aku akan menjadi penjaminnya," kata Rasululah SAW.
Atas perintah Rasulullah SAW, pemuda itu pun akhirnya melepaskan kijang itu. Kijang itu langsung berlari menuju anak-anaknya untuk meberikan susu. Setelah semua anak-anaknya kenyang, sang induk kembali lagi menemui Rasululah SAW dan pemuda itu menangkapnya kembali.

Pesan Malaikat Jibril.
Maka turunlah malaikat Jibril dan mengucap pesan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
"Wahai Muhammad, Allah SWT mengucapkan salam kepada engkau dan Allah SWT berfirman,
Demi kemulianKu dan kehormatanKu, sesungguhnya Aku lebih kasih umat Muhammad dari kijang itu kasih anak-anaknya dan Aku akan kembalikan mereka kepada engkau sebagaimana kijang itu kembali kepada engkau."

Umat Islam meyakini bahwa setiap hal dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah mukjizat.
Hal ini terbukti dari banyaknya kumpulan hadits yang diceritakan oleh para sahabat mengenai berbagai mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Dan tak lupa, blog kisah islamiah ini hanya bagi mereka yang beriman, karena isi blog terdapat bermacam mukjizat yang tidak bisa dinalar oleh pikiran manusia. Untuk menambah dan makin tambah keimanan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dengan sumber cerita ada di postingan awal.

Dalam hadits yang diriwaytkan oleh Abu Hurairah dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak ada seorang pun di antara para nabi kecuali mereka diberi sejumlah mukjizat yang diantaranya agar manusia beriman kepadanya dan mukjizat yang aku terima adalah wahyu. Allah mewahyukannya kepadaku. Maka aku berharap kiranya menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat."

Jumat, 04 November 2011

Tetap Bersyukur Meski Kaki Diamputasi

Walaupun harus kehilangan satu kaki dan satu anak, namun Urwah tetap sabar. Bahkan ia malah bersyukur karena Allah SWT masih menyisakan satu kaki dan anak-anaknya yang lain.
Subhanallah, kesabarannya ini tentu patut diteladani.

Abu Abdillah atau Urwah bin Zubair bin Al Awwam adalah diantara sederert tabiin yang memiliki kucuran mata air hikmah untuk generasi umat sesudah beliau. Beliau ini merupakan Murid dari Siti Aisyah dan merupakan cucu dari Abu Bakar Ash-Shiddiq as.
Adik dari Abdullah bin Zubair telah memberikan pelajaran tentang nilai sebuah kesabaran.

Kisahnya.
Pada suatu hari, cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq mendapat tugas untuk menemui Khalifah Al Wahid bin Abdul Malik di ibukota kekhalifahan, Damaskus di negeri Syam. Bersama dengan rombongan, Urwah akan menempuh perjalanan dari Madinah menuju Damaskus yang saat ini menjadi negara Yordania.

Ketika melewati Wadil Qura, sebuah daerah yang belum jauh dari Madinah, telapak kaki kiri beliau terluka. Tabiin yang lahir pada tahun 23 Hijriyah ini menganggap lukanya hanya biasa saja. Namun ternyata luka tersebut bernanah dan terus menjalar ke bagian atas tubuh Urwah.
Setibanya di istana Al Walid, luka di kaki kiri Urwah tersebut sudah mulai membusuk hinga ke betis. Urwah pun mendapatkan pertolongan dai Khalifah Al Walid yang memerintahkan sejumlah dokter untuk memberikan perawatan.

Luka di kaki.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan, para dokter yang memeriksa salah seorang murid dariAisyah binti Abu Bakar ini mempunyai satu kesimpulan. Kaki kiri Urwah harus diamputasi agar luka yang membusuk tidak terus menjalar ke tubuh. Urwah menerima keputusan tim dokter ini dan dimulailah operasi amputasi. Seorang dokter menyuguhkan Urwah semacam obat bius agar operasi amputasi tidak terasa sakit. Saat itu, Urwah menoak dengan halus.

Beliau mengatakan,
"Aku tidak akan meminum suatu obat yang menghilangkan akal sehatku sehingga aku tidak lagi mengenal Allah, walaupun hanya sesaat."
Mendengar ucapan Urwah itu, tim dokter pun menjadi ragu untuk melakukan amputasi. Saat itu juga, Urwah mengatakan,
"Silahkan kalian potong kakiku. Selama kalian melakukan operasi, aku akan shalat agar sakitnya tidak sampai kurasakan."



Melihat hal itu, KhalifahAl Walid menghampiri Urwah yang masih terbaring. Ia mencoba menghiburnya.Tapi dengan penuh senyum Urwah berkata,
'Ya Allah, segala puji hnaya untuk-Mu. Sebeum ini, aku memiliki dua kaki dan dua tangan, ekmudian Engkau ambil satu. Alhamdulillah, Engkau masih menyisakan yanglain. Dan walaupun Engkau telah memberikan musiabh kepadaku, namun msa sehatku masih lebih panjang dari hari-hari sakitku ini. Segala Puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil dan atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku dari masa sehat."

Putra Kesayangan Meninggal.
Mendengar hal itu, Khalifah Al Walid berkata,
"Belum pernah sekalipun aku melihat seorang tokoh yang kesabarannya seperti dia."

Beberapa saat setelah itu, tim dokter memperlihatkan potongan kaki yang telah diamputasi itu kepada Urwah. Melihat potongan kakinya, beliau berkata,
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, tidak pernah sekalipun aku melangkahkan kakiku ini ke arah kemaksiatan."

Ujian yang Allah SWT berikan kepada Urwah tidak hanya sampai di situ saja.
Malam itu juga, bersamaan dengan telah selesainya operasi pemotongan kaki, Urwah mendapat kabar bahwa salah seorang putra beliau yang bernama Muhammad, putra kesayangannya telah meninggal dunia. Muhammad meninggal karena sebuah kecelakaan, ditendang oleh kuda saat sedang bermain-main di dalam kandang.

Dalam keheninan malam itu, Urwah berucap pada dirinya,
"Segala Puji hanya milik Allah SWT, dahulu aku memiliki tujuh orang anak, kemudian Engkau ambil satu dan masih Engkau sisakan enam.Walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku, hari-hari sehatku masih lebih panjang dari masa pembaringan ini."

Sungguh sangat tabah Sahabat Urwah bin Zubair ini.
Tak bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau kita diamputasi namun tidak diberi obat bius, pastilah akan menjerit kesakitan. Tapi bagi sahabat Urwah ini, beliau malah menolak untuk dibius dalam proses operasi.

Rabu, 02 November 2011

Asal Mula Ka'bah

Dahulu Ka'bah dibangun oleh Nabi Ibrahim as dibantu anaknya, Nabi Ismail as. Kini para jamaah dari seluruh penjuru dunia banyak berdatangan ke Masjidil Haram untuk tawaf di Ka'bah.


Kisahnya.
Kisah awal mula dibangunnya Ka'bah tersebut terjadi pada zaman Nabi Ibrahim as. Dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman,

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Artinya:
"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia."
(QS. Ali Imran: 96).

Ahli kitab mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis, oleh karena itu Allah membantahnya.

Ayat itulah yang menjadi asbabul nuzul dari pembangunan Ka'bah.

Dikisahkan, bahwa Nabi Ibrahim as membawa istrinya Siti Hajar dan putanya Ismail ke daerah Makkah. Pada saat itu Hajar dalam keadaan menyusui putranya. Nabi Ibrahim kemudian menempatkan Hajar dan Ismail di samping pohon besar.

Pada saat itu, di tempat tersebut tidak berpenghuni dan kering. Nabi Ibrahim as kemudian meninggalkan keduanya yang hanya berbekal beberapa kurma serta bejana yang berisi air.

Perjuangan Siti Hajar.
Ketika Nabi Ibrahim hendak pergi, Hajar mengikutinya seraya berkata,
Wahai Ibrahim, kemanakah engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami, padahal di lembah ini tidak ada seorang pun dan tidak ada makanan apapun," ucap Hajar secara berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menghiraukannya.

"Apakah Allah SWT yang memerintahkan engkau berbuat seperti ni?" tanya Hajar.
"Benar," jawab Nabiyullah Ibrahim.
Hajar lalu berkata," Kalau begitu, Dia (Allah) tidak akan membiarkan kami."

Nabi Ibrahim as sampai di daerah Tsaniah, dimana tidak telihat lagi oleh keluarga yang beliau tinggalkan.
Di sana Nabi Ibrahim as berdo'a,
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati nanti. Ya Rabb kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Ketika persediaan air mereka habis, Hajar pun mencari air untuk dia dan putranya. Dia pergi ke bukit Shafa mencari apakah ada orang di sana. namun, dia tidak menemukan siapapin di sana.

Hajar pun kemudian pergi ke Marwah dan mencari-cari orang di sana dan ternyata dia tidak menemukan seorang pun. Hajar berulang-ulang pergi dari Shafa ke Marwah, kemudian sebaliknya dari Marwah ke Shafa sampai 7 kali.

Oleh karena itulah di dalam ibadah haji ada yang namanya Sai, yaitu lari-lari kecil dari Shafa ke Marwah dan sebaliknya hingga 7 kali.

Sampai di Marwah, Hajar mendengar suara yang menyuruhnya diam. Ternyata suara itu berasal dari Malaikat. Lalu Malaikat itu mengais tanah hingga airnya keluar.
(Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa air muncul, air zam-zam karena hentakan kaki Nabi Ismail yang masih bayi itu, Wallahu A'lam).

Selanjutnya ia pun turun, mengisi bejana dan kembali lagi dia memberi minum putranya, Ismail

Setelah beberapa waktu berlalu, ada sebuah rombongan dari suku Jurham datang ke tempat tersebut. Mereka tinggal di sekitar air zam-zam bersama Hajar dan Ismail. Ini semua mereka lakukan atas izin dari Siti Hajar.



Membangun Ka'bah.
Nabi Ismail pun tumbuh menjadi dewasa dan belajar bahasa Arab dari suku Jurham tersebut. Beliau juga menikah dengan salah seorang wanita dari mereka.

Pada suatu saat, Nabi Ibrahim datang ingin menjenguk putranya Nabi Ismail as.
Ketika sedang meraut anak panah, Nabi Ibrahim as pun datang. Nabi Ismail pun bangkit menyambutnya dan mereka langsung berpelukan melepaskan rindu.

"Wahai anakku, sesungguhnya Allah menyuruhku menjalanakan perintah," kata Nabi Ibrahim.
"Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Rabbmu," sahut Nabi Ismail.
"Apakah engkau akan membantuku?" tanya Nabi Ibrahim.
"Aku pasti akan membantumu, Wahai Nabiyullah," seru Ismail.

Nabi Ibrahim kemudian menunjuk ke tumpukan tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya seraya berkata,
"Sesungguhnya Allah menyuruhku membuat suatu rumah di sini."

Pada saat itulah keduanya bahu membahu meninggikan pondasi Baitullah.Ismail mulai mengangkut batu, sementara Nabi Ibrahim memasangnya. Setelah bangunan tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk pijakan bagi Nabi Ibrahim as.
Batu itulah yang kemudian disebut sebagai tanda makam Ibrahim.

Mereka pun terus menerus bekerja sambil mengucapkan doa,
"Wahai Rabb kami, terimalah dari kami (amalan), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Sampai akhirnya tuntaslah pembangunan Baitullah itu. Ka'bah pun akhirnya berdiri di bumi Allah SWT.

(Nabi Ibrahim as ini kala menerima perintah Allah SWT, anak istri pun tak mampu mencegahnya. Terbukti dia meninggalkan anak istrinya di suatu lembah yang sepi meski hati tidak tega. namun itulah perintah Tuhan, harus selalu ditaati).

Ka'bah.
Rumah Allah SWT, Baitullah ini akan selalu dijaga sampai hari kiamat nanti. Terbukti saat ada raja yang ingin menghancurkan ka'bah, namun di tengah jalan mereka dihadang oleh pasukan dari langit.
Ingat Surat Al-Fiil berikut ini:


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ
تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

Artinya:
1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah.
2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?
3. dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,
4. yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
5. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

Selasa, 01 November 2011

Pertemuan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang

Kisah islmiah malam ini akan melanjutkan kisah tantang Perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari jati diri, dan dalam pengembaraannya setelah diusir dari Kadipaten Tuban. Setelah Sunan Kalijaga diusir dari Kadipaten beliau menetap di sebuah hutan. Dan di hutan itulah Raden Said bertemu dengan seorang laki-laki yang ternyata adalah Sunan Bonang.



Kisahnya.
Raden Said mengembara tanpa tujuan yang pasti. Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi dan selama bertahun-tahun lamanya, Raden Said menjadi perampok yang budiman. Mengapa disebut budiman, karena hasil rampokan yang ia dapat tidak dimakannya, namun diberikan kepada fakir miskin.

Yang dirampoknya adalah hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak menyantuni rakyat jelata dan tidak mau membayar zakat.
Di hutan Jatiwangi, dia membuang nama aslinya, orang-orang menyebutnya sebagai Berandal Lokajaya.

Pada suatu hari, ada seseorang yang berjubah putih melewati hutan Jatiwangi. Dari kejauhan, Berandal Lokajaya ini sudah mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan. Terus menerus diawasinya orangtua berjubah putih itu. Setelah dekat, dia menghadang langkahnya dan tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih.
Karena tongkat itu direbut dengan paksa, maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.

Dengan susah payah orang itu bangun, dan sepasang matanya mengeluarkan air walaupun tidak ada suara rintih tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang dipeganganya, dan  ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas. Hanya gagangnya saja yang terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari seperti emas.

Raden Said heran meliat orang tua yang menangis itu. Segera saja diulurkannya kembali tongkatnya sambil berkata,
"Jangan menangis wahai orang tua, ini tongkatmu aku kembalikan."
'Bukan tongkat ini yang aku tangisi," jawab orang tua itu.
"Lalu apa yang membuatmu menangis?" tanya Berandal Lokajaya.
"Lihatlah, aku telah berbuat dosa, berbuat kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi," kata lelaki tua itu sambil menunjukkan beberapa batang rumput kepada Berandal Lokajaya.

"Hanya beberapa lembar rumput engkau merasa berdosa?" tanya Berandal Lokajaya.
"Ya, memang berdosa. Karena aku mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata aku cabut untuk makanan ternak, itu tak mengapa.Tapi kalau untuk kesia-siaan benar-benar suatu dosa," jawab lelaki tua itu.

Berandal Jayaloka Bergetar Hatinya.
Hati Berandal Jayaloka yang tampan itu tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.
"Anak muda, sesungguhnya apa yang engkau cari di hutan ini?" tanya lelaki tua itu.
"Saya menginginkan harta," jawab Berandal Jayaloka.
"Untuk apa?" tanya lelaki tua itu selanjutnya.
"Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita," jawab Berandal Jayaloka.
"Hemmm...sungguh mulia hatimu, sayang...cara mendapatkannya keliru," ujar lelaki tua itu.



"Orang tua....apa maksudmu?" tanya Berandal Jayaloka.
"Boleh aku bertanya anak muda, jika engkau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?" tanya lelaki tua itu.
"Sungguh perbuatan bodoh, hanya akan menambah kotor dan bau pakaian saja," jawab Berandal Jayaloka.

Lelaki tua itu tersenyum.
"Demikian pula amal yang engkau lakukan. Engkau bersedekah dengan barang yang didapat secara haram, merampok atau mencuri, itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing," jelas lelaki tua itu.
Berandal Jayaloka itu tersentak kaget, namun lelaki tua itu langsung melanjutkan perkataannya.
"Alah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal," tutur lelaki tua itu.

Raden Said makin tercengang setelah mendengar keterangan dari lelaki tua itu. Rasa malu mulai menghujam lubuk hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini. Di pandangnya lelaki berjubah putih itu dengan seksama. Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai menyukai dan tertarik dengan lelaki tua itu.

Pohon Aren Berubah menjadi Emas.
Lelaki tua itu kemudian melanjutkan penuturannya.
"Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentas kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Engkau tidak bisa mengubahnya hanya dengan memberikan bantuan makan dan uang kepada para penduduk miskin. Engkau harus memperingatkan para penguasa yang zalim agar mau mengubah caranya memerintah agar tidak sewenang-wenang. Engaku juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya," tutur lelaki berjubah putih itu.

Berandal Jayaloka, Raden Said semakin terpana, ucapan seperti itulah yang selama ini didambakannya. Raden Said yang masih dalam keterpanaan, lelaki berjubah putih itu kembali berkata,
"Kalau engkau tak mau bekerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah, maka ambillah itu. Itu adalah barang yang halal, ambillah sesukamu," kata lelaki berjubah putih itu sambil menunjuk ke arah pohon aren.

Sepasang mata Raden Said terbelalak karena seketika itu juga pohon aren itu berubah menjadi emas seluruhnya. Raden Said adalah seorang pemuda yang sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dia kecapnya. Berbagai ilmu-ilmu aneh juga telah dia pelajarinya, dia mengira orang tua itu mempergunakan ilmu sihir. Dari itu dia mencoba menangkal sihir itu, namun ternyata setelah Raden Said mengerahkan seluruh ilmunya, tetap saja pohon aren itu menjadi emas.

Raden Said yakin bahwa orang tua itu tidak mempergunakan ilmu sihir, ia benar-benar merasa heran dan penasaran. Ilmu apakah yang telah dipergunakan orang tua itu sehingga mampu mengubah pohon aren menjadi sebuah pohon arena emas.

Selama beberapa saat, Raden Said terpukau di tempatnya berdiri. Dia mencoba memanjat pohon aren itu, dan ternyata benar-benar berubah menjadi emas seluruhnya. Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu, medadak buah aren itu rontok berjatuhan mengenai kepala Raden Said.
Pemuda itu akhirnya terjerembab ke tanah, roboh dan pingsan.

Ketika Raden Said tersadar, buah aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti pohon aren-aren lainnya. Kemudian Raden Said bangkit berdiri untuk mencari orang tua berjubah putih itu. Tapi yang dicarinya sudah tidak ada di tempat.


Insya Alloh besok akan dilanjutkan dengan Kisah Sunan Kalijaga yang mencari guru sejati.

Senin, 31 Oktober 2011

Sunan Kalijaga Diusir dari Kadipaten

Kisah islamiah kali ini akan bercerita tentang salah satu punggawa Walisanga yang yaitu Sunan Kalijaga.
Dari manakah asalnya hingga sampai menjadi seorang wali yang sangat dikagumi hingga sekarang. Karena kisahnya sangat panjang, maka akan dipecah-pecah menjadi beberapa judul postingan.


Kisahnya.
Siapa Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga aslinya bernama Raden Said.
Beliau ini adalah putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta seringkali disebut Raden Sahur.Walaupun dia ini termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu, tapi Raden Sahur sendiri sudah masuk agama Islam.

Sejak kecil Raden Said sudah diperkenalkan dengan agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban. tetapi karena melihat keadaan sekitar yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata, maka jiwa Raden Said berontak.

Gelora jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek oknum pejabat Kadipaten Tuban di saat menarik pajak pada penduduk atau rakyat je;lata.

Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita dikarenakan adanya musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar pajak yang kadangl kala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak.

Walaupun Raden Said putra seorang bangsawan, dia lebih menyukai kehidupan yang bebas, yang tidak terikat oleh adat istiadat kebangsawanan. Dia gemar bergaul dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling bawah hingga paling atas. Justru karena pergaulannya yang supel itulah dia banyak mengetahui seluk beluk kehidupan rakyat Tuban.

Berniat Mengurangi Penderitaan Rakyat.
Nait dari Raden Said untuk mengurangi penderitaan rakyat sudah disampaikan kepada ayahnya, tapi agaknya ayahnya tidak bisa berbuat banyak. Dia cukup memahaminya karena posisi ayahnya sebagai adipati bawahan Majapahit.Tapi, niat itu tak pernah padam. Jika malam-malam sebelumnya dia sering berada didalam kamarnya sambil membaca Al Qur'an, maka sekarang dia sering keluar rumah.

Pada saat penjega gudang Kadipaten tertidur lelap, Raden Said mengambil sebagian hasil bumi yang ditarik dari rakyat untuk disetorkan ke Majapahit. Bahan makanan itu dibagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya. Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan mereka.
Tentu saja rakyat yang tidak tahu apa-apa itu menjadi kaget bercampur gembira karena telah menerima rezeki yang tak terduga. Walaupun mereka tak pernah tahu siapa gerangan yang memberikan rezeki itu sebab Raden Said melakukannya di malam hari secara sembunyi-sembunyi.

Bukan hanya rakyat jelata yang terkejut atas rezeki yang seakan turun dari langit itu. Penjaga gudang kadipaten juga merasa kaget, hatinya gundah karena semakin hari barang-barang yang hendak disetorkan ke pusat kerajaan Majapahit itu semakin berkurang.

Ia ingin mengetahui siapakah pencuri barang hasil bumi di gudang itu. Pada suatu malam, ia sengaja mengintip dari kejauhan, dari balik sebuah rumah, tak jauh dari gudang Kadipaten.
Dugaannya benar, ada seorang yang membuka pintu gudang, hampir tak berkedip penjaga pintu itu memperhatikan pencuri itu. Dia hampir tak percaya kalau pencuri itu adalah Raden Said, putra junjungannya sendiri.

Raden Said Dilaporkan.
Untuk melaporkannya sendiri kepada Adipati Wilatikta ia tak berani, karena kuatir dainggap telah membuat fitnah. Maka penjaga gudang itu akhirnya meminta dua orang saksi dari sang adipati untuk memergoki pencuri yang mengambil hasil bumi rakyat yang tersimpan di gudang.

Raden Said tak pernah menyangka bahwa malam itu perbuatannya bakal ketahuan. Ketika hendak keluar dari gudang sambi membawa bahan-bahan makanan, tiga orang prajurit kadipaten menangkapnya beserta barang bukti yang dibawanya. Raden Said dibawa ke hadapan ayahnya.
Adipati Wilatikta sangat marah melihat perbuatan anaknya itu. Raden Said tidak menjawab untuk apakah dia mencuri barang-barang hasil bumi yang hendak disetorkan ke Majapahit itu.

Untuk itulah Raden Said harus mendapat hukuman.
Karena kejahatan mencuri itu baru pertama kali dilakukan oleh Raden Said, maka dia hanya mendapat hukuman cambuk sebanyak 200 kali pada tangannya, kemudian Raden Said disekap selama beberapa hari tak boleh keluar rumah.
Jerakah Raden Said atas hukuman yang sudah diterimanya?

Ternyata tidak.
Sesudah kelar hukuman yang diterimanya, dia benar-benar keluar dari lingkungan istana. Tak pernah pulang sehingga membuat cemas ibu dan adiknya.
Apakah yang dilakukan Raden Said selanjutnya?

Dia mengenakan topeng khusus, berpakaian serba hitam dan kemudian merampok harta orang-orang kaya di Kadipaten Tuban, terutama orang kaya yang pelit dan para pejabat kadipaten yang curang.
Harta hasil rampokan itu pun diberikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang menderita lainnya. Tapi, kemudian perbuatannya ini mencapai titik jenuh setelah ada saja orang yang bermaksud mencelakakannya.

Ada seorang pimpinan perampok sejati (asli perampok) yang mengetahui aksi Raden Said menjarah harta pejabat kata. Pemimpin perampok itu mengenakan pakaian serupa dengan pakaian Raden Said bahkan juga mengenakan topeng seperti topeng Raden Said.

Pada suatu malam, Raden Said yang baru saja menyelesaikan shalat isyak, mendengar jerit tangis para penduduk desa yang kampungnya sedang dijarah perampok. Dia segera mendatangi tempat kejadian tiu. Begitu mengetahui kedatangan Raden Said, kawanan perampok itu segera berhamburan melarikan diri. Tinggal pemimpin perampok saja yang sedang tengah terlihat menodai seorang gadis.


Raden Said pun mendobrak pintu ruamh itu dan di dalam kamar terlihat seseorang yang berpakaian seperti dirinya, juga mengenakan topeng serupa sedang mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya dia telah selesai menodai si gadis itu.

Raden Said berusaha menangkap perampok itu, namun pemimpin perampok itu berhasil melarikan diri. Tiba-tiba saja terdengar suara kentongan dipukul bertalu--talu hingga penduduk dari kampung lain pun berdatangan ke tempat itu. Pada saat itulah si gadis itu memegang erat-erat tangan Raden Said.
Raden Said pun menjadi panik dan kebingunagan . Para pemuda dari kampung menerobos masuk dengan senjata terhunus. Raden Said ditangkap dan dibawa ke rumah kepala desa.

Kepala desa yang merasa penasaran, mencoba membuka topeng yang ada di wajah Raden Said. Begitu mengetahui siapa orang dibalik topeng itu, si kepala desa menjadi diam seribu bahasa.
Sama sekali dia tak menyangka bahwa perampok itu adalah putra Adipati Wilatikta, Raden Said. Gegerlah masyarakat pada saat itu, Raden Said dianggap perampok dan pemerkosa. Si gadis yang diperkosa itu adalah bukti kuat dan saksi hidup atas kejahatannya.

Sang kepala desa masih berusaha menutupi aib junjungannya. Dian-diam ia membawa Raden Said ke istana kadipaten Tuban tanpa diketahui oleh orang banyak.
Tentu saja sanga Adipati menjadi murka. Raden Said yang selama ini selalu  dia sayang dan selalu dia bela, kali ini telah membuat hati ayahnya marah.

RadenSaid diusir dari Kadipaten.
Raden Said pun akhirnya diusir oleh ayahnya dari kadipaten Tuban.
"Pergilah dari Kadipaten Tuban ini!!! Engkau telah mencoreng nama baik keluarganmu sendiri. Pergi!!! Jangan pernah kembali sebelum engkau dapat menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten Tuban ini dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang sering engkau baca di malam hari," usir Adipati WIlatikta.

Sang Adipati Wilatikta juga sangat terpukul atas kejadian itu. Raden Said yang diharapkan dapat menggantikan kedudukannya selaku Adipati Tuban, ternyata telah menutup kemungkinan ke arah itu. Sirna sudah segala harapan sang Adipati.

Hanya ada satu orang saja yang tak dapat mempercayai perrbuatan Raden Said., yaitu Dewi Rasawulan, adik kandung Raden Said sendiri.
Dewi Rasawulan berpendapat bahwa kejadian itu merupakan fitnah yang ditujukan kepada kakanya. Ia berpendapat bahwa Raden Said itu berjiwa bersih, luhur dan sangat tidak mungkin melakukan perbuatan keji seperti itu.

Dewi Rasawulan yang sangat menyayangi kakaknya itu merasa kasiha, dan tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya, dia meninggalkan istana kadipaten Tuban untuk mencari Raden Said untuk diajak pulang.

Minggu, 30 Oktober 2011

Bertobat Setelah Mendengar Lantunan Al-Qur'an

Kisah Islamiah kali ini tentang Taubatan Nasuha.
Seorang penjahat pun hatinya bisa bergetar dan bertobat saat mendengar seseorang yang melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Bahkan ketika sudah bertobat, ia bisa mengubah tanah yang ia genggam menjadi emas.


Kisahnya.
Fudhail adalah seornag penjahat yang sangat terkenal. Semua warga takut kepadanya. Suatu hari, ia melihat seorang gadis yang berjalan sambil membawa air. Fudhail langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti kemana gadis itu pergi.

"Ikutilah dia dan cari tahu di mana rumahnya. Setelah itu bilang kepada orang tuanya bahwa Fudhail menginginkan putrinya dan mereka harus mengosongkan rumahnya nanti malam," perintah Fudhail kepada anak buahnya.

Setelah sampai di rumahnya, gadis pembawa air itu masuk. Tak lama kemudian anak buah Fudhail mendatangi rumah itu dengan kasar.
"Buka pintu!!! Kami anak buah Fudhail. Dia menginginkan anakmu. Nanti malam engkau harus mengosongkan rumahmu untuk dia dan putrimu," bentak para penjahat itu.


Membaca Al Qur'an.
Ayah gadis itu kontan saja ketakutan. ia lalu menceritakan peristiwa itu kepada istrinya,. Sang istri pun tak kalah takutnya, sebab mereka sama-sama telah mendengar kejahatan Fudhail. Kedua orangtua itu bingung, namun saking takutnya, dengan berat hati kedua orang tua gadis itu terpaksa merelakan buah hatinya.

Pada malam harinya, Fudhail benar-benar datang. Sesampainya di depan rumah gadis itu, Fudhail memerintahkan anak buahnya untuk bersiaga. Ia pun masuk ke dalam rumah.
Setelah mengamati ke seluruh sudut rumah, Fudhail pun menemukan sebuah pintu kamar. Dia yakin itu adalah kamar si gadis. Ia pun berjalan mendekat, namun sayup-sayup didengarnya sebuah suara yang dia yakin itu adalah suara si gadis.
Ternyata itu suara ayat suci Al Qur'an yang menggambarkan tentang tobat.

Mendengar ayat itu, hati Fudhail tiba-tiba bergetar dengan hebatnya. Untuk pertama kalinya dia merasa takut kepada Allah SWT. Hatinya tersentuh dan ingin kembali ke jalan-Nya. Dia pun mengurungkan niatnya untuk menodai gadis itu.

Dengan gemetar, ia pun berlari keluar rumah. Ia terus berlari sampai dia tiba di sebuah gubuk dan berhenti di sana. Pada saat itulah dia mendengar perbincangan para musafir yang sedang beristirahat.
"Aduh, saat ini Fudhail tahu tidak ya kita di sini? Kalau dia sampai tahu, pasti akan merampas barang-barang kita" ujar salah seorang dari mereka.

Hati Fudhail sedih mendengar ucapan para musafir itu. Dia baru sadar kalau dirinya telah menjadi teror bagi masyarakat.



Emas dalamGenggaman Tangan.
Sejak saat itulah Fudhail menjalai pertobatan dan menempuh jalan zuhud. Karena sudah bertobat, Fudhail mempunyai keinginan untuk meminta maaf kepada korban-korban kejahatannya dulu. Ada satu orang yang membuatnya tertegun, yakni meminta maaf pada seorang Yahdi yang pernah ia rampok kala itu.

Ia berulang kali memohon maaf, tapi si Yahudi masih tetap saja menolak permohonan maafnya. Namun Fudhail tidak putus asa dan terus berusaha. Karena terus menerus didesak, akhirnya si Yahudi bersedia memaafkan tapi dengan satu syarat.

"Aku berjanji tidak akan memaafkan perampas uangku. Untuk menebus nazar itu, ambillah emas dan uang yang ada di bawah kasurku dan berikan kepadaku. Maka, akan aku anggap itu sebagai ganti rugi harta yang pernah engkau rampas dulu," kata si Yahudi.



Fudhail pun memenuhi syarat itu. Dia menuju temnpat tidur yang dimaksudkan lalu dirogohkan tangannya ke bawah kasur. Sesaat kemudian ditarik tangannya dari bawah kasur dan tampaklah beberapa kepingan emas dan uang ditelapak tangannya. Fudhail segera menyerahkan kepingan emas dan uang itu kepada orang Yahudi tersebut.

Si Yahudi Masuk Islam.
Namun, tiba-tiba saja si Yahusi menyalaminya sambil berkata,
"Sekarang ajarilah aku kalimat syahadat, sebab aku sekarang telah percaya kepada Tuhan Muhammad dan Muhammad Rasul-Nya."

Fudhail pun sangat heran mendegar penuturan Yahudi itu.
Namun, segera saja si Yahudi menambahi kalimatnya,
"Ketahuilah, aku telah membaca dalam kitab suciku bahwa salah satu sifat umat nabi terakhir adalah ketika mereka bertobat dari hati yang paling dalam, maka tanah di tangan mereka akan berubah menjadi emas atas Kuasa Allah."

Terjawab sudah keheranan Fudhail, teryata yang ada di bawah tempat tidur orang Yahudi itu tidak ada emas atau uang, namun hanya sebongkah tanah yang kemudian berubah menjadi emas atas Kuasa-Nya.

Kamis, 27 Oktober 2011

Dialog Rasulullah dengan Onta

Sebagai utusan Allah SWT, banyak sekali mukjizat yang dimiliki oleh Rasul SAW. Dan kali ini salah satunya adalah Rasulullah SAW mampu berdialog dengan seekor onta yang akan disembelih oleh pemiliknya.

Kisahnya.
Ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Uqa'il bin Abu Thalib. Dia ini seorang yang baru saja masuk islam. Rasul tahu kalau Uqa'il masih memiliki keraguan terhadap Rasul SAW. Sehingga, jika Rasulullah melakukan perjalanan, beliau selalu mengajak Uqa'il untuk menjadi teman selama perjalanan.
Salah satunya adalah ketika Rasulullah berniat berkeliling Ngeri Arab, beliau mengajak Uqa'il untuk menemaninya salama perjalanan.

Selama dalam perjalanan itu, sifat Rasulullah SAW yang begitu ramah dan baik hati sangat terlihat. Hampir di setiap perjalanan, beliau berhenti sejenak untuk beristirahat dan mencoba untuk lebih dekat dengan penduduk Arab. Beliau pun selalu berkomunikasi dan menolong mereka yan membutuhkan pertolongan.

Uqa'il dan para penduduk Arab merasa sangat kagum dengan sosok Rasulullah SAW yang begitu santun dengan siapapun, termasuk kepada orang miskin bahkan seorang pengemis, sehingga para penduduk Arab tidak ragu lagi untuk berbicara, bertanya dan mengadu tentang segala sesuatu yang mereka alami kepada Rasululah SAW. Tidak hanya manusia yang mengadu dan bercerita tentang suatu masalah, bahkan seekor onta pun mendatangi beliau dan menceritakan perihal yang dialami.


Pengaduan Onta.
Di tengah perjalanan, Nabi Muhammad SAW dan Uqa'il melihat seekor onta yang berlari seperti dikejar sesuatu. Beliau akhirnya berhenti untuk memastikan apa yang tengah terjadi pada onta tersebut. Di saat Rasul SAW berhenti, tiba-tiba onta tersebut berlari dan meloncat menuju ke hadapan Rasul SAW, sampai hampir menabrak tubuh Raulullah.

Rasulullah SAW sangat terkejut dengan kehadiran onta itu ke depannya secara tiba-tiba. Beliau bertanya,
"Apa yang engkau alami, sampai engkau meloncat sejauh itu hingga di depanku?" tanya Rasul SAW.
Onta yang terlihat ketakutan itu langsung menjawab,
"Ya, Rasulullah, aku minta perlindungan darimu."
Uqa'il yang melihat dan mendengar Rasulullah SAW berkomunikasi dengan seekor onta itu, ia merasa sangat keheranan dan hampir tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Namun, hal itu benar-benar terjadi di depannya.

Akhirnya, Uqa'il yang semula tidak yakin dengan mukjizat utusan Allah SWT tersebut, sekarang menjadi yakin.
"Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini karena sempat meragukan kemuliaan utusan-Mu. Mulai sekarang, aku akan selalu tunduk kepada Rasululah SAW dan akan selalu mematuhi perintahnya," ucap Uqa'il dalam hati.

Selang waktu beberapa saat, datanglah seorang Arab yang membawa pedang tajam. Nabi SAW sangat heran dengan orang Arab tersebut.
"Hendak apakah engkau, terhadapku atau dengan onta ini?" tanya Rasululah SAW.
"Wahai Rasul Allah, aku telah membelinya dengan harga yang sangat mahal, akan tetapi dia tidak mau taat dan tidak mau jinak kepadaku, maka akan aku potong saja dan akan aku berikan dagingnya kepada orang-orang yang memerlukannya," jawab orang Arab itu.

Penyelesaian Bijaksana.
Nabi Muhammad SAW bertanya kepada onta,
"Mengapa engaku mendurhakai dia?" tanya Rasul SAW.

Onta itu pun menjawab,
"Wahai Rasulullah, aku mendurhakainya karena perbuatannya yang buruk. Ia terus menerus tidur, meninggalkan shalat Isya. Seandainya dia mau berjanji kepada engkau untuk mengerjakan shalat Isya, maka aku berjanji pula untuk tidak mendurhakainya, sebab aku sangat takut kalau Allah SWT menurunkan siksaan-Nya kepadaku," jelas onta itu.

Setelah mendengar penuturan onta yang panjang lebar itu, Nabi Muhammad SAW pun mempercayainya, dan orang Arab itu tidak bisa berkelit lagi karena sudah ada bukti dari onta miliknya.
"Aku akan mengembalikan onta ini kepadamu, asalkan engkau berjanji untuk tidak meninggalkan shalat Isya. Akan tetapi jika engkau tidak mau, maka aku akan membawa onta ini," tutur Rasul SAW.
"Ya Rasululah, aku berjanji tidak akan meninggalkan shalat Isya lagi dan berjanji pula tidak melakukan maksiat. Jika aku melakukannya, maka onta itu akan aku berikan kepadamu," jawab orang Arab itu dengan sungguh-sungguh.

Setelah emndengar pernyataan orang Arab itu, akhirnya Rasululah SAW menyerahkan onta itu kepada pemiliknya. Rasulullah SAW pun kembali meneruskan perjalanan dengan Uqa'il yang semakin kagum dengan Nabi Muhammad SAW.