Selasa, 28 Juni 2011

Kisah Ramses II dan Nabi Musa

Kisah Islamiah hadir kembali dan kali ini akan mengisahkan tentang Raja Ramses II yang mengaku Tuhan kepada Nabi Musa.
Fir'aun sebenarnya adalah Raja dari dinasti ke 19 kerajaan Mesir Kuno. Sebagai raja, ia memimpin beberapa ekspedisi ke Israel, Lebanon dan Suriah. Ia juga memimpin ekspedisi ke selatan, ke Nubia, dan bagian awal kekuasaannya adalah fokus dalam pembangunan kota, kuil dan monumen.

BERIKUT KISAHNYA.
Raja Fir'aun mendirikan kita Pi-Ramesses di delta sungai nil sebagai ibu kota barunya dan basis utama untuk kampanye militernya di Suriah. Ramesses II juga merupakan salah satu Fir'aun yang paling lama berkuasa, yakni 66 tahun.

Saat Nabi Musa dilahirkan, Ramses II sudah berusia 54 tahun. Dia sudah mengangkat dirinya sebagai Tuhan.
Ramses II diangkat sebagai Fir'aun pada usia 24 tahun, dia mengendalikan sepenuhnya Mesir dalam waktu 20 tahun pertama. Saat mengangkat dirinya sebagai Tuhan, kekuasaannya sudah berlangsung selama 30 tahun.



Kelahiran Musa sangat menggusarkan Fir'aun, sebab para penasehat spiritualnya mengatakan bahwa akan lahir bayi laki-laki dari kalangan Bani Israel yang kelak akan mengalahkan Fir'aun.
Dia pun memerintahkan pembunuhan setiap bayi laki-laki dari Bani Israil.
(lihat QS. 2: 49).

Akan tetapi, bayi Musa diselamatkan oleh Allah SWT dengan cara yang sangat istimewa. Ibu Musa memperoleh ilham dari Allah untuk menghanyutkan bayinya di aliran sungai Nil. Atas kehendak-Nya, bayi yang diletakkan di ranjang itu akhirnya berlabuh hingga sampai di istana Fir'aun di Memphis.

Saat itu, istri Fir'aun yang paling dicintai (Asiyah) sedang berada di taman pinggir sungai Nil. Dia melihat bayi lucu itu dan langsung jatuh hati kepadanya. Maka, dia lalu mengambil bayi tersebut dari keranjangnya dan meminta Fir'aun untuk tidak membunuhnya.
Bahkan justru bayi laki-laki itu berkulit putih yang jelas-jelas bukan dari kaum Fir'aun. Ramses II tidak mampu menolak permintaan istrinya.
(Lihat QS. 28: 9).

MUSA TINGGAL di KERAJAAN.
Selama tinggal di kerajaan Fir'aun, Musa terus mendapat perlindungan Allah SWT. Bayi itu tidak mau disusui siapa pun. Dia hanya mau menyusu kepada ibu kandungnya yang berwajah Bani Israil.
Untuk memenuhi permintaan istri tercinta, Ramses II menyelenggarakan sayembara mencari perempuan yang mampu mengasuh dan menyusui bayi tersebut, dan akhirnya terpilihlah ibu kandung Musa sebagai pengasuh yang menyusui dan memelihara Musa sampai masa kanak-kanaknya berakhir.
(Lihat QS. 28: 12).

Singkat cerita, Nabi Musa yang merupakan musuh besar Fir'aun itu sejak bayi dipelihara dan dibesarkan dalam istana. Sampai pada suatu ketika, setelah menjadi pemuda, dia membunuh orang Qitbhi (orang Mesir asli) yang sedang berkelahi dengan seorang pemuda Bani Israil.

Fir'aun pun tak mampu menahan diri untuk menghukum Musa. Dia geram kepada Musa, pemuda Bani Israil yang sudah dipeliharanya bertahun-tahun, tetapi tetap saja menunjukkan pembelaannya kepada Bani Israil yang dia benci.




Musa akhirnya lari meninggalkan kota Memphis menuju negeri Madyan, di timur Mesir. Di sana, Musa diambil menantu olelh Nabi Syuaib sekaligus belajar agama kepadanya selama sepuluh tahun atau lebih.
(QS. 28: 27).

Menjelang usia 40 tahun, Musa bersama keluarganya meninggalkan negeri Madyan menuju Mesir. Di tengah perjalanan, di sekitar gunung Sinai, Musa melihat api di sebuah bukit. Dia pun mendaki bukit itu dan ternyata di bukit itulah dia menerima perintah dari Allah SWT untuk menghentikan kesewenang-wenangan Fir'aun serta mendakwahkan agama Tauhid. Allah pun membekali Musa dengan beberapa mukjizat.

TOBATNYA DITOLAK.
Setelah menerima wahyu di Gunung Sinai, Nabi Musa melanjutkan perjalanan ke kota kerajaan untuk menyampaikan ajaran Allah SWT. Ia menyatakan bahwa Allah pencipta alam semesta dan merupakan agama nenek moyangnya.
Tapi Fir'aun tetap menolak dan menyatakan bahwa dirinya sebagai Tuhan yang sebenarnya.

Kemudian Nabi Musa mengajak Bangsa Israil untuk keluar dari Mesir menuju Tanah Yang Dijanjikan Allah.
Upaya pergi itu diketahui oleh Raja Fir'aun dan kemudian mengerahkan 2 ribu pasukan inti untuk menghentikan langkah Bani Israil yang jumlahnya mencapai 600 ribu orang. Namun sayangnya, Bangsa Israil dapat meloloskan diri dari kejaran Fir'aun beserta bala tentaranya.

Dan bagi Fir'aun II, ia justru menemui ajalnya setelah tenggelam bersama pasukannya di laut merah.

Namun sebelum meninggal di tengah Laut Merah, Fir'aun sempat bertobat, akan tetapi tobatnya tidak diterima oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam ayat suci Al Qur,an,
"Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas mereka, hingga Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah ia,
"Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri."
(QS. Yunus: 90).

Allah SWT berfirman,
"Apakah sekarang (kamu baru percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuaasaan Kami."
(QS. Yunus: 91-92).

Ramses II meninggal dunia dalam usia 97 tahun dan dimakamkan di Lembah Raja setelah mayatnya ditemukan rakyatnya dalam kurun waktu beberapa hari terombang-ambing ombak di Laut Merah.

Keberadaan muminya sempat tidak jelas. Baru pada tahun 1881, mumi Ramses II ditemukan para arkeolog di sekitar Lembah Raja untuk dipindahkan ke Museum Mesir di Kairo.
Wallahu A'lam.

Sabtu, 25 Juni 2011

Diazab Gila Karena Menelantarkan Keluarga

Setiap perbuatan pasti ada balasannya.
Hal itulah yang diterima oleh Mansyur karena menelantarkan anak serta istrinya demi perempuan lain dan mabuk-mabukan.
Ia mendadak hilang ingatan alias GILA.

Berikut Kisahnya.
Sebelum kecantol dengan perempuan lain dan mabuk-mabukan, Mansyur tergolong orang yang sukses.
Dia dahulu dikenal sebagai pekerja keras, dan karena keuletannya, dia diangkat sebagai manager perusahaan tempatnya bekerja. Sebuah rumah dan mobil pun berhasil ia miliki.

Namun, kesuksesan dan kebahagiaan itu tak berlangsung lama.
Lemahnya iman dan tak kuasa mengendalikan nafsu dunianya, Mansyur tergoda dengan wanita panggilan dan kerap kali mabuk-mabukan. Perubahan pun terjadi, dari semula Mansyur yang begitu baik dan perhatian pada istri dan anak-anaknya, mendadak bersikap dingin dan kera tak pulang dengan alasan bisnis.

Berbagai alasan pun sering ia ungkapkan pada istrinya setiap kali menanyakan keberadaannya.
Mansyur malah bersenang-senang sendiri dengan perempuan lain di tempat hiburan malam. Entah berapa banyak wanita yang sudah menjadi teman kencannya, bahkan tak hanya di dalam kota saja, Mansyur juga sering menghabiskan waktu akhir pekannya bersama perempuan penghibur di luar kota.

Mansyur pun kini juga tak lagi memberikan nafkah lahir pada sang istri. Uang dari hasil usahanya juga habis ia gunakan untuk mentraktir teman-temannya mabuk-mabukan dan habis di meja judi.
Sungguh drastis perubahan yang ia alami.

Mabuk-Mabukan.
Mansyur yang seharusnya menjadi contoh untuk anak buahnya agar bersikap baik dan disiplin, malah mempelopori beberapa anak buahnya untuk minum.

"Han, ayo pesta lagi," ajak Mansyur kepada Johan.
"Siap bos," jawab Johan, anak buah Mansyur.
"Ayo kita habiskan minuman ini," seru Mansyur.

Dengan ditemani beberapa temannya, Mansyur yang juga dikenal sebagai jago minum ini pun dengan semangat menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol.
"Siapa yang masih kuat, dia yang menang," tantang salah satu temannya.
"Ayo, aku sudah habis nih," ejek Mansyur kepada temannya.

Di saat isi beberapa botol minuman tersebut mulai habis, saat itulah Mansyur mulai menyerah.
Beberapa kali ia terlihat muntah karena banyaknya minuman yang ditenggaknya, hingga sempoyongan tak kuat menahan badan.

Diazab Gila.
Suatu hari, ada sebuah peristiwa yang membuat nasibnya berbalik 180 derajat.
Kebiasaannya yang kerap kali mengajak mabuk-mabukan anak buahnya di tempat kerja, ia pun dipecat dari perusahaannya.
"Pak Mansyur, mulai sekarang Anda harus berhenti bekerja dari kantor ini. Sikap Anda telah menjatuhkan nama perusahaan kita," tegas pimpinan perusahaan tempat dia bekerja.

Tak hanya itu saja, rahasia Mansyur yang telah menggelapjan uang perusahaan pun ikut terbongkar.
Mobil, rumah dan sejumlah barang berharga miliknya juga disita.
Tak pelak lagi, pikiran Mansyur pusing tak karuan.

Karena kejadian itu, Mansyur pun tak makan berhari-hari, ia mulah sering merenung dan menyendiri. Parahnya lagi, istri dan anak-anaknya yang tak tahu apa-apa malah menjadi sasaran kekesalannya.

Hari demi hari kejiwaan Mansyur mulai goncang, ngomel tak karuan, tertawa sendiri, bahkan marah-marah tanpa sebab.
Ia pun kini hidup di jalanan.

Inilah balasan setimpal yang diterima Mansyur karena menelantarkan anak dan istrinya, hingga ia pun menjadi gila.

Kamis, 23 Juni 2011

Tobat Sehari Hapus Dosa 40 Tahun

Pada suatu ketika di daerah yang dihuni Bani Israil tidak turun hujan cukup lama. Penyebabnya adalah karena ada salah seorang dari kaum itu yang telah melakukan dosa 40 tahun lamanya.
Setelah orang itu bertobat, akhirnya di daerah itu turun hujan.
Bagaimana Kisahnya?
Berikut Kisahnya.
Pada zaman Nabi Musa, kaum Bani Israil pernah ditimpa musim kemaru yang panjang.
Karena tidak kuat menanggung cobaan dari Allah itu, mereka berkumpul untuk menemui Nabi Musa dan berkata,
"Wahai Musa, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami."

Kemudian berdirilah Nabi Musa a.s bersama kaumnya. Mereka berangkat menuju tanah lapang untuk minta diturunkan hujan. Jumalah mereka kurang lebih 70 ribu orang.

PENGHALANG DOA.
Kepada Nabi Musa, Allah SWT menurunkan wahyu-Nya,
"Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi, bersama denganmu ini, ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama 40 tahun.
Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini. Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya."

Nabi Musa kembali berkata,
"Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini dapat di dengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari 70 ribu orang."
Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka."
Menuruti apa yang diperintahkan Allah, Nabi Musa a.s berseru kepada kaumnya,
"Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya sampai 40 tahun, keluarlah kamu dari rombongan ini, karena kamulah hujan tidak diturunkan Allah SWT."

Mendengar seruan dari Nabi Musa a.s itu, maka orang yang durhaka itu berdiri sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian, tahuah dia bahwa yang dimaksudkan Nabi Musa itu adalah dirinya ssendiri. Karena itu dia ingin bertobat, tetapi ia ragu untuk mengakuinya di tempat itu.

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun. Walaupun demikian, Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan, maka terimalah tobatku," begitu doanya.

Beberapa saat selepas itu, awan bergumpal di langit, setelah itu hujan pun turun dengan deras. Melihat keadaan demikian, Nabi Musa berkata,
"Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah diantara kami tidak ada seorangpun yang keluar mengakui dosanya?"

HUJAN LEBAT.
Lalu Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga disebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab tidak menurunkan hujan kepada kamu."
Kemudian Nabi Musa berkata,
"Tuhanku, sebenarnya siapakah gerangan dia? Perlihatkanlah dia kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu itu?"

Allah berfirman,
"Wahai Musa, dulu ketika ia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku?
Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?"

Akhirnya Kaum Nabi Musa mengerti bahwa Allah Maha Pemaaf.
Maksiat selama 40 tahun bisa dihapus dengan tobat sehari.

Pohon Tumbuh dari Batu

Atas tantangan petinggi Quraisy untuk menunjukkan mukjizat, Rasulullah SAW mampu membelah batu dan keluarlah pohon besar dari tengah-tengah batu itu.
Par petinggi Quraisy pun takjub dibuatnya.


BERIKUT KISAHNYA.
Abu Jahal dikenal sangat keras menentang dakwah Rasulullah SAW. Maka disebarkanlah isu kontroversial tentang pribadi Rasulullah. Dalih utamanya adalah pelecehan terhadap agama nenek moyang, sehingga meresahkan masyarakat.

Abu Jahal kemudian mencari jalan lain.
Ia berfikir, Abu Thalib tentu bisa menghentikan dakwah kemenakannya tersebut. Maka dengan mengajak beberapa pembesar Quraisy, ia mendatangi rumah Abu Tahlib.

Ketika tiba di rumah Abu Thalib, Abu Jahal pun berkata,
"Hai Abu Thalib, apakah engkau biarkan tindakan kemenakanmu itu?"
Mendengar pengaduan itu, Abu Thalib mempersilahkan tamunya untuk masuk rumah.
"Tuan-tuan yang terhormat, silahkan duduk terlebih dahulu.Akan kupanggilkan Muhammad agar kita bisa mendenagr sendiri apa komentarnya," jawab Abu Thalib sambil bergegas mencari Nabi.

RASULULLAH SAW MENOLAK.
Di hadapan para tamunya, Abu Thalib pun menasehati kemenakannya agar menghentikan dakwahnya. Namun dengan penuh yakin dan tanggung jawab, Rasulullah SAW menolak.

Mendengarkan sumpah yang dilontarkan oleh Rasulullah SAW tersebut, Abu Jahal terdiam.
Kamudian seorang kawannya menyela,
"Hai Abu Thalib, jika apa yang Muhammad dakwahkan itu benar, coba katakan kepadanya agar ia memperlihatkan sebuah mukjizat kepada kami, sebagai bukti kerasulannya, sehingga kita dapat menyaksikan kebenaran dakwahnya."

Abu Thalib berkata,
"Hai kemenakanku, bagaimana pendapatmu menanggapi permintaan mereka itu?" tanya Abu Thalib kepada Rasulullah SAW.
Dengan nada tegas, Rasulullah SAW balik berkata,
"Katakan apa yang kalian minta."

Mendengar jawaban Nabi itu, kawan Abu Jahal tadi pun menoleh ke halaman rumah Abu Thalib. Kebetulan di sana ada sebuah batu besar, maka ia minta agar batu itu terbelah seketika, lalu dari dalamnya keluar sebatang pohon raksasa bercabang dua menjulur sampai ke bumi sebelah timur, dan cabang lain ke ujung bumi sebelah barat.

PERMINTAAN ANEH.
Mendengar tantangan yang disampaikan rekannya, Abu Jahal tersenyum puas, tanda setuju atas permintaan kawannya itu.
"Sebuah permintaan aneh. Mustahil Muhammad dapat melakukan semua itu, karena memang di dunia ini belum pernah ada sabatnag pohon yang tumbuh secara tiba-tiba dan pohonnya jauh lebih besar ketimbang batunya," guman Abu Jahal dalam hati.

Namun hal itu tidaklah mustahil bagi Rasulullah SAW, Beliau dekati batu itu dan berdoa memohon pertolongan Allah SWT.
Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya seraya menunjuk ke arah batu itu.


Tanpa diduga, tiba-tiba batu yang berada di hadapan puluhan orang itu terbelah menjadi dua dan dari dalamnya keluar sebatang pohon. Dalam sekejap, pohon itu membesar dan terus membesar hingga memenuhi halaman rumah Abu Thalib yang sedemikian luasnya.
Bersamaan dengan itu, tumbuh pula dua cabang raksasa seakan membelah langit, satu cabang menjulur ke arah barat sejauh mata memandang, dan satu cabang lainnya menjulur ke timur hingga menutupi pandangan mata.

Melihat kejadian yang sangat menkjubkan dan aneh tersebut, Abu Jahal bersama kawan-kawannya benar-benar tercengang melihatnya.
Dan seornag dari mereka berkomentar,
"Hai Muhammad, kau telah memperlihatkan kehebatanmu. Tapi kami tidak akan beriman sebelum kamu dapat mengembalikan pohon itu seperti sedia kala."

Rasulullah SAW termenung dan berfikir sejenak.
Sejenak kemudian Rasulullah berdoa, dan secara tiba-tiba pula pohon raksasa itu pun mengecil. Ia terus mengecil smapai akhirnya masuk ke dalam batu, dan batu itu kemudian utuh kembali sepertti semula.
Subhanallah.

Rabu, 22 Juni 2011

Rasulullah Menaklukkan Bumi

Kisah Islami Teladan di blog Kisah Islamiah malam ini yang tidak kalah seru adalah mukjizat. Ya mukjizat Rasulullah SAW yang mampu menaklukkan bumi.
Musuh Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam sangatlah banyak, namun, tiap kali akan dibunuh, Beliau selalu bisa menyelamatkan diri dengan berbagai keajaiban yang diberikan Allah SWT.

BERIKUT KISAHNYA.
Kaum kafir Quraisy tidah henti-hentinya melakukan penyerangan dan membuat strategi untuk membunuh Rasulullah SAW. Mereka pun mengumpulkan para gembong kafir Quraisy untuk bermusyawarah di Darun Nadwah.
Dan akhirnya pemuka Quraisy mengambil keputusan dengan mengambil sayembara, yaitu barang siapa yang berhasil menangkap Rasulullah hidup-hidup atau mati maka akan diberi hadiah 100 ekor unta. Pengumuman pun disebarkan ke seluruh kaum kafir Quraisy.

Mendengar pengumuman itu, salah seorang dari kaum kafir Quraisy yang bernama Suraqah langsung angkat bicara dan berkata,
"Akulah yang sanggup menangkap Muhammad dan menyeretnya ke hadapan kalian, bahkan aku tak segan-segan untuk menebas batang lehernya," ucapnya dengan lantang.

Dalam golongan Quraisy, Suraqah terkenal sebagai jagoan menunggang kuda. Setelah berkata demikian, Suraqah keluar dan mempersiapkan kuda yang paling bagus untuk mengejar Nabi Muhammad yang diperkirakan belum begitu jauh dari kota Makkah.

Semangat Suraqah untuk mendapatkan 100 ekor unta menjadikan ia sangat giat mencari jejak-jejak Rasulullah yang akhirnya ditemukan. Suraqah menjadi lebih bersemangat dan lebih kencang lagi memacu kudanya dan akhirnya ia melihat dua bayangan yang ternyata adalah Rasulullah dan Abu Bakar.

MALAIKAT JIBRIL DATANG.
Rasulullah SAW dan Abu Bakar melihat pula kedatangan Suraqah yang mengendarai kuda dengan kencangnya. Ketika Suraqah telah semakin dekat dengan mereka, Abu Bakar berkata,
"Ya Rasulullah, kita telah ditemukan oleh Suraqah dan Suraqah adalah orang Arab yang pemberani."
Rasulullah menjawab,
"Engkau jangan takut, sesungguhnya Allah bersama dengan kita."

Jarak Suraqah telah begitu dekat dengan Rasulullah dan Abu Bakar, dan Suraqah hendak menghunus pedangnya.
"Wahai Muhammad, Siapakah yang bisa menghalangiku untuk membunuhmu pada hari ini," kata Suraqah.
"Allah lah yang bisa menolongku," jawab Rasulullah dengan tegas.

Lalu, datanglah Malaikat Jibril untuk mengabarkan bahwa bumi ini ditundukkan kepada perintah Rasulullah SAW. Maka Malaikat Jibril menyuruh Rasulullah untuk mengendalikan bumi.
Begitu diberitahu oleh Malaikat Jibril, Rasulullah SAW langsung memerintahkan kepada bumi agar menarik kaki kuda Suraqah ke dalam bumi.
"Wahai bumi, ambillah Suraqah dan kudanya sampai sebatas lutut," perintah Rasul.

TAK PERNAH JERA.
Suraqah pun terpelanting jatuh tersungkur, ia terkejut dan langsung memohon kepada Rasulullah untuk menyelamatkan dirinya dari bumi yang hendak menelannya. Kemudian Rasulullah berdoa kepada Allah dan selamatlah Suraqah beserta kudanya.

Setelah Suraqah selamat, ia bukannya menepati janji, malah justru sebaliknya, ia malah mengulangi perbuatannya hendak membunuh Rasulullah dengan pedangnya. Namun, setiap kali Suraqah mengarahkan pedangnya kepada Rasulullah, ia dan kudanya selalu terperosok ke dalam tanah. Suraqah belum jera juga, ia terus menerus bangkit hingga kejadian itu berlangsung sebanyak 7 kali.

Hingga ke 8 kalinya, akhirnya ia bertobat dan jera atas perbuatannya.
"Wahai Muhammad, aku ini mempunyai beberapa unta dan binatang ternak lainnya yang bisa dipakai bekal dalam perjalananmu, maka penggembala nanti akan mengambil semua itu untuk engkau pakai sekehandak hatimu," kata Suraqah.

"Wahai Suraqah, jika engaku tidak suka pada agama Islam, aku pun tidak menyukai harta dan binatang ternakmu," jawab Rasulullah.
Suraqah akhirnya masuk Islam dan ia meyakini kerasulan Nabi Muhammad dan mengimani Allah SWT.

Tobatnya Pembunuh Paman Nabi

Kisah Islamiah malam ini tentang kisah tobatnya Wasyi yang telah membunuh paman Nabi yang bernama Hamzah.
Karena terhasut akan paksaan kaum Quraisy, Wasyi ini akhirnya membunuh paman Rasulullah SAW, dan dia mengaku bersalah di hadapan Nabi dan ingin bertobat. Jalan tobatnya pun cukup panjang.


BERIKUT KISAHNYA.
Wasyi pada awalnya adalah budak berkulit hitam dari Habsyi. Di sepanjang hidupnya, ia terus menerus dihasut oleh kafir Quraisy untuk membunuh majikannya yang tak lain adalah paman Rasulullah SAW yang bernama Hamzah.
Jika Hamzah mati, maka Wasyi akan merdeka sebagai budak.

Maka akhirnya Wasyi pun berhasil membunuh Hamzah. Namun demikian dirinya belum menemukan ketenangan meskipun tidak lagi menjadi budak. Hal itu karena Rasulullah bersama kaum muslimin berhasil membebaskan kota Makkah dari tangan Quraisy.

HASUTAN KAFIR QURAISY.
Melihat keadaan yang dianggap membahayakan nyawanya, Wasyi akhirnya melarikan diri ke Thaif, namun demikian, tak lama kemudian petinggi Thaif juga menyatakan keislamannya. Wasyi kembali bingung dan ia berencana lari ke Syiria atau ke Yaman untuk menghindari Rasulullah SAW.
Ketika ia masih bingung, seseorang datang kepadanya.

"Hai Wasyi, Rasulullah SAW tak akan membunuh seseorang yang masuk Islam," kata orang itu.
Mendengar kata orang itu dan atas petunjuk Allah SWT, Wasyi akhirnya memberanikan diri menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya.
"Apakah kamu yang bernama Wasyi?" tanya Rasulullah SAW.
"Benar, ya Rasulullah," jwab Wasyi.
"Ceritakan kepadaku bagaimana kamu membunuh pamanku Hamzah," pinta Rasulullah.
"Semua itu karena paksaan kafir Quraisy dan hasutan Hindun binti Utbah, sekarang aku menyesal dan rela menerima hukumannya ya Rasulullah," kata Wasyi yang berlinang air mata.




Hati Rasulullah SAW bahagia menerima penyesalan Wasyi.
Namun demikian Beliau menolak untuk didekati oleh Wasyi.
"Pergilah dari sisiku, wahai Wasyi, wajahmu selalu mendatangkan ingatanku kembali kepada pamanku tercinta," kata Rasul.

WASYI MEMBUNUH NABI PALSU.
Wasyi kembali menangis hebat dan ia berusaha tetap ingin menebus segala dosa yang telah diperbuatnya. Ia ingin memberikan bukti kepada Rasulullah SAW atas penyesalannya.
Maka pada suatu saat ia bergabung dengan pasukan muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid untuk memberantas nabi palsu yang bernama Musailamah Al-Kadzdzab, Nabi palsu yang telah memalsukan Al Qur'an.

"Tanganku sendiri yang harus mengakhiri hidup Musailamah, nabi palsu itu," demikian sumpah Wasyi.
Akhirnya setelah pertempuran tiba, Wasyi dengan gesitnya maju dalam perang dan memainkan tombaknya hingga akhirnya tombak beracun itu menembus dada Musailamah, hingga nabi palsu itu mati.

Belum puas dengan itu, Wasyi memenggal leher nabi palsu itu kemudian mengangkat bagian kepalanya tinggi-tinggi.
"Aku telah berhasil menebus dosaku, aku telah berhasil menebus segala dosa yang pernah aku lakukan," teriaknya dengan gembira.

Perasaan puas telah menghiasi hati Wasyi yang selama ini was-was dan ragu. Ia ingin menunjukkan keislamannya dengan sungguh-sungguh kepada Rasulullah SAW.

Perjalanan Nabi Musa Mencari Nabi Khidir

Kisah Islamiah kali ini hadir dengan kisah menarik lainnya yang berhubungan dengan sosok setan yang banyak menyebabkan lupa kepada manusia.
Lupa ini bisa membawa petaka. Setan pun sering memanfaatkan titik lemah ini dari manusia. Betapa banyak mereka yang dibuat lupa dalam urusan dunia apalagi agama.


BERIKUT KISAHNYA.
Pada suatu waktu Nabi Musa pernah bertanya kepada kaumnya, siapa manusia yang lebih pintar dan berilmu lebih dari yang ia miliki.
"Wahai kaumku, adakah manusia di muka bumi ini yang kepandaiannya melebihi aku? Yang ilmunya lebih banyak daripada aku?"
(Red: Nabi Musa bertanya demikian semata pasti ingin mempelajari ilmu biar tambah berilmu, bukan bermaksud sombong sedikitpun di hadapan manusia).

Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab, dan akahirnya Nabi Musa membawa pertanyaan pada Allah SWT, pencipta alam semesta.
"Ada. Di muka bumi itu masih ada yang lebih dari dirimu Musa," Allah berfirman.
"Lalu dimanakah tempat orang itu berada, Ya Allah?" tanya Nabi Musa.
"Dia berada di antara pertemuan dua laut," Allah berfirman lagi.
"Dalam perjalananmu nanti, bawalah seekor ikan. Nantinya ikan itu akan meninggalkanmu. Dia akan mencari jalan sendiri ke pantai atau laut. Di tempat itulah orang yang kau cari berada."

Akhirnya, Nabi Musa memulai perjalanannya. Selama itu, dia ditemani oleh pembantunya yang bernama Yusyi' bin Nun. Nabi Musa berpesan kepadanya,
"Ingatkanlah aku bila ikan ini lepas dan meningglakan kita."
"Baiklah," jawab Yusyi'.
Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan. Dan setelah berjalan cukup jauh, Nabi Musa dan pembantunya merasa lelah. Nabi Musa memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah batu besar.

Karena lelahnya, Nabi Musa dan Yusyi' tertidur lelap dan mereka tidak sadar kalau ikan yang mereka bawa terlepas. Ikan itu meninggalkan mereka menuju ke pantai.
Sesaat kemudian, keduanya terbangun dan melanjutkan perjalanan cukup jauh hingga kemudian keduanya merasa lelah lagi.

Kali ini bukan hanya lelah saja yang mendera, namun juga perut yang mulai terasa sangat lapar.
"Apakah engkau tidak merasa lelah dan lapar Yusyi?" tanya Nabi Musa.
"Ya, saya pun merasa lelah dan lapar," jawab pembatunya itu.

"Kalau begitu, kita berhenti di sini sebentar," pinta Nabi Musa kepada pembantunya.


BERTEMU NABI KHIDIR.
Tiba-tiba saja terlintas di pikiran Nabi Musa untuk menjadikan ikan yang mereka bawa untuk makan siang.
"Dimanakah ikan yang kita bawa tadi? Daripada kita kelaparan, biarlah ikan itu kita masak dan kita jadikan makan siang," Ujar Nabi Musa.

Yusyi' tersentak kaget, dia baru ingat bila Nabi Musa tadi berpesan untuk menjaga ikan itu dan melihat tempat lepasnya. Tapi kini, ikan itu telah lepas tanpa dia tahu keberadaannya."
"Maaf ya Nabi, aku telah lalai dengan pesanmu. Ikan yang kita bawa tadi telah lepas tanpa sepengetahuanku," kata Yusyi penuh penyesalan.
"Tidak Yusyi', ini juga salahku, setan telah membuat aku lupa dan lalai. Seharusnya aku yang lebih bertanggung jawab dan memperhatikan keadaan ikan itu," sahut Nabi Musa.

"Apakah kamu masih bisa mengingat kapan terkahir ikan itu bersama kita?" tanya NabiMusa.
"Kalau tidak salah, sewaktu kita beristirahat di bawah batu besar tadi ikan itu masih bersama kita. Aku tidak tahu lagi, setelah kita melanjutkan perjalanan, mungkin ikan itu terlepas saat kita tidur," jelas Yusyi'.
"Kala begitu, itulah tempat yang kita cari," seru Nabi Musa sangat senang.

Keduanya pun segera berbalik arah mengikuti jejak pulang ke tempat yang mereka maksud, yaitu batu besar yang sebelumnya jadi tempat peristirahatan mereka.
Setelah keduanya sampai, sesaat kemudian keduanya bertemu dengan Nabi Khidir. Nabi Khidir adalah orang yang dimaksudkan oleh Allah SWT.
Beliau lebih banyak mengetahui rahasia-rahasia Allah dibandingkan dengan Nabi Musa a.s.