Minggu, 12 Juni 2011

Kisah Iblis Mengaku Tuhan

Ada berjuta-juta cara iblis untuk menggoda manusia, salah satunya adalah mengaku sebgai Tuhan, seperti yang pernah dilakukan oleh iblis kepada para murid Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani. Berunung sja penyamaran itu diketahui sehingga iblis segera diusir.

Suatu hari Syeikh Abdul Qadir al Jaelani dan beberapa murid-muridnya sedang dalam perjalanan di padang pasir dengan tanpa alas kaki. Padahal kondisi padang pasir waktu itu sangat panas dan para muridnya sengaja dibiarkan berjalan di depannya.

Tidak lama kemudian mereka merasa sangat haus dan kelelahan. Tiba-tiba awan muncul di atas mereka seperti sebuah payung yang melindungi mereka dari panasnya matahari. Tak lama kemudian muncul juga mata air yang memancar dan sebuah pohon kurma yang berbuah banyak dan matang.
Lalu datanglah sinar berbentuk bulat, lebih terang dari matahari dan berdiri berlawanan arah dengan arah matahari.

"Wahai para murid Abdul Qadir, aku adalah Tuhan kalian. Makan dan minumlah karena telah aku halalkan bagi kalian apa yang aku haramkan bagi orang lain," kata suar tersebut.

Suara Asing Menyeru
Para murid itu berlari ke arah mata air untuk meminumnya, dan ke arah pohon kurma untuk memakan buahnya. Akan etapi Syeikh Abdul Qadir mencegahnya, lantas ulama Tasawuf itu berteriak,
"Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk," ucapnya waktu itu.

Awan, sinar, mata air dan pohon kurma semuanya langsung hilang. Akan tetapi suara misterius itu masih ada dan terus mengganggu.
"Bagaimana kamu yahu bahwa itu aku?" kata suara yang sejatinya adalah iblis itu.




"Iblis yang terkutuk yang telah dikeluarkan Allah dari rahmat-Nya bahwa firman Allah bukan dalam bentuk suara yang dapat didengar oelh telinga ataupun datang dari luar. Lebih lagi aku tahu bahwa hukum Allah tetap dan ditujukan kepada semua. Allah tidak akan mengubahnya ataupun membuat yang haram menjadi halal bagi siapa yang dikasihi-Nya," kata Syeikh Abdul Qadir.

"Wahai Abdul Qadir, aku telah membodohi tujuh puluh nabi dengan tipuan ini. Pengetahuanmu begitu luar biasa dan kebijakanmu lebih besar daripada nabi-nabi itu," aku iblis.

"Hanya sekian banyak orang-orang bodoh saja yang menjadi pengikutmu. AKu berlindung darimu kepada TuhanKu Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Karena bukanlah pengetahuanku ataupun kebijakanku yang menyelamatkanku darimu, tetapi hanya dengan rahmat dari Tuhanku," bentak Syeikh Abdul Qadir.

Orang Yang Ikhlas
Setelah Iblis mengaku mmenyerah menggoda Syeikh Abdul Qadir, ia langsung menghilang menjauh dari ulama yang terkenal itu.
Namun demikian iblis tidak akan putus asa dan berhenti menggoda manusia. Semua yang digoda iblis akan terpengaruh kecuali orang-orang yang ikhlas dalam beribadah.

Kegagalan iblis dalam menggoda manusia juga pernah dialami iblis ketika menggoda Nabi Yahya, Nabi Ayyub, Nabi Nuh dan sebagainya dan insya Alloh akan diposting juga di blog ini.
Bahkan iblis sendiri takut kepada Rasulullah SAW, terbukti iblis mengungkapkan cara-caranya menggoda manusia kepada nabi yang paling akhir itu.

Ketetapan Allah SWT telah diberikan melalui Nabi Akhir zaman, Nabi dan Rasul terakhir yang hidup di bumi ini, Nabi Muhammad SAW,  pembawa risalah terakhir, dan ketetapan itu tidak akan dirubah hingga hari kiamat, sungguh tak masuk akal bila ada yang manghalalkan yang haram dan begitu juga sebaliknya.
Wallahu A'lam.

Sabtu, 11 Juni 2011

Tundukkan Sungai Nil Dengan Surat

Khalifah Umar bin Khattab memiliki banyak sekali karomah. Salah satunya adalah menaklukkan sungai Nil yang pada saat itu dikatakan selalu minta tumbal manusia.

Sahabat Umar bin Khattab dilahirkan di Mekkah. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya adalah Hantamah binti Hasyim. Umar memiliki julukan yaitu Al Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara yang haq dan yang batil.

Keluarga Umar tergolong keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang jarang. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.

Ketika ajakan Islam dideklarasikan oleh Nabi Muhammad SAW, Umar semula menolak. Namun pada kahirnya hidayah islam menghampiri hatinya. Ia pun kemudian mauk islam secara utuh.

Gantikan Tumbal
Setelah menjadi bagia dari umat islam, Umar begitu total menjalankan syariat Islam. Tidak hanya dalam segi ibadah, ia pun rela berperang demi tegaknya agama Allah. Di balik semua ketotalan keimanannya, ia memiliki banayk karomah. Salah satunya adalah mampu menaklukkan sungai Nil dengan sebuah surat.

Imam al-Haramain mengemukakan kisah tentang sungai Nil. Pada masa jahiliyah, sungai Nil tidak mengalir sehingga setiap tahun dilemparlah tumbal berupa seorang perawan ke dalam sungai tersebut.
Ketika Islam datang, sungai Nil yang seharusnya sudah mengalir, ternyata tidak mengalir. Penduduk Mesir kemudian mendatangi Amr bin Ash dan melaporkan bahwa sungai Nil kering sehingga diberi tumbal dengan melempar seorang perawan.

Kemudian Amr bin Ash r.a berkata kepada mereka,
"Sesungguhnya hal ini tidak boleh dilakukan karena Islam telah menghapus tradisi tersebut."

Maka penduduk Mesir bertahan selama tiga bulan dengan tidak mengalirnya sungai Nil, sehingga mereka benar-benar menderita.
Amr menulis surat kepada Khalifah Umar bin Khattab untuk menceritakan peristiwa tersebut. Dalam surat jawaban itu Umar menyatakan,
"Engkau benar bahwa Islam telah mengahapus tradisi tersebut. AKu menirim secarik kertas untukmu, lemparkanlah kertas itu ke sungai Nil."

Sungai Nil Tunduk
Kemudian Amr membuka kertas tersebut sebelum melemparkannya ke sungai Nil. Ternyata kertas tersebut berisi tulisan Khalifah Umar bin Khattab untuk sungai Nil di Mesir. Isi surat tersebut adalah,
"Jika kamu mengalir karena dirimu sendiri, maka jangan mengalir. Namun jika Allah Yang Maha ESa dan Maha Perkas yang mengalirkanmu, maka kami mohon kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa untuk membuatmu mengalir."

Kemudian Amr melempar kertas tersebut ke sungai Nil sebelum kekeringan benar-benar terjadi. Sementara itu penduduk Mesir telah bersiap-siap untuk pindah meninggalkan Mesir. Pagi harinya, ternyata Allah SWT telah mengalirkan sungai Nil enam belas hasta dalam satu malam.

Karomah Umar bin Khattab yang lain adalah munculnya dua harimau dari dalam bumi kala Umar hendak dibunuh.
Sahabat Fakhrurrazi menceritakan bahwa tatkala Umar tidur, ada musuh yang ingin membunuhnya. Tapi tatkala musuh itu mengangkat pedangnya, tiba-tiba Allah mengeluarkan dua harimau dari dalam bumi yang siap memangsanya.
Musuh itu menjadi takut sehingga terlepaslah pedang dari tangannya. Akhirnya musuh itu sadar dan masuk Agama Islam.

Melihat Pahala Saat Sakaratul Maut

Pahala dari apa yang kita perbuat ternyata akan diperlihatkan juga saat sakaratul maut. Begitu juga yang dialami oleh seorang sahabat Rasulullah SAW berikut ini.

Pada suatu saat Nabi Muhammad SAW didatangi oleh istri seorang sahabat yang baru saja meninggal dunia. Ia terlihat gundah gulana dan Rasul pun menanyakan hal apa yang membuat ia bingung.
Dan istri sahabat itu kemudian menceritakan penggalan-penggalan ucapan suaminya saat sakaratul maut.
"Ya Rasul, ia mengucapkan, Seandainya lebih panjang...., Seandainya lebih panjang...Seandainya lebih panjang..., kemudian terdiam.
Tak lama kemudian suamiku berucap lagi, Seandainya yang baru...Seandainya yang baru..., kemudian terdiam lagi. Tak lama berucap lagi, Seandainya semuanya...seandainya semuanya...," jelas wanita itu.

Isyarat amal
"Jangan resah, akan aku jelaskan maksud dari kata-kata suamimu," jawab Rasulullah. Lalu Rasulullah menjelaskan.
Pertama.
Saat suaminya mengatakan seandainya lebih panjang, itu bermula saat suamimu pada suatu subuh sedang berjalan menuju masjid, ia mendapati seorang tua yang buta sedang berjalan tertatih-tatih menuju masjid.

Melihat orang tua yang buta itu hatinya tersentuh, kemudian dengan sabar ia menuntun orang tua itu sampai ke masjid untuk shalat subuh berjamaah. Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat ia sakaratul maut.
Karena begitu indahnya ganjaran itu, maka ia berucap,
"Seandainya lebih panjang...seandainya lebih panjang..., maksudnya adalah seandainya lebih panjang lagi ia menuntun orang tua yang buta itu menuju masjid, maka ganjaran yang ia lihat saat sakaratul maut itu tentu lebih indah lagi."

Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan penjelasannya.
Untuk yang kedua, suamimu mengucapkan "seandainya yang baru."
Ia mengucapkan itu karena ia teringat dengan perbuatannya pada suatu haru, ketika ia pulang dari membeli baju di pasar, ia bertemu dengan seorang miskin yang tidak memakai baju.
Melihat hal itu, tersentuhlah hatinya untuk memberikan bajunya.

Maka suamimu itu segera menukar bajunya yang lama dengan yang baru, kemudian bajunya yang lama itu diberikan kepada orang miskin itu. Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat sakaratul maut.
Karena begitu indahnya dengan yang dia lihat, ia berucap,"Seandainya yang baru...seandainya yang baru..."

Maksudnya adalah seandainya pakaian yang baru yang ia berikan kepada orang miskin itu, tentu ganjaran yang diperlihatkan padanya saat sakaratul maut tentu akan lebih indah lagi.

Gelisah Hati Istri Sahabat Hilang
Rasul kembali menjelaskan, suatu hari sepulang dari bekerja, suamimu itu merasakan lapar dan dahaga. Lalu ia pun menuju tempat makan dan sesampainya di sana, ia pun telah siap duduk untuk menyantap hidangan makannya.
Saat ia hendak makan, terlihat seorang yang berpakaian lusuh dan wajahnya pun terlihat lesu. Ternyata orang tersebut adalah seorang pengemis yang lapar.

Sebenarnya, suamimu merasakan lapar yang sangat, hanya saja ia merasa iba dengan pengemis itu. Akhirnya dibagi dualah makanan yang hendak ia santap itu bersama si pengemis.


Pahala atau ganjaran dari perbuatan baiknya itu ditampakkan di depan matanya saat ia sakaratul maut. Karena begitu indahnya ganjaran yang ia terima karena membagi dua jatah makanan itu, maka ia berucap," Seandainya semuanya...seandainya semuanya..."
Maksudnya adalah seandainya ia memberikan semua jatah makanannya kepada pengemis itu, tentu ganjaran yang diperlihatkan kepadanya saat sakaratul maut akan lebih indah lagi daripada yang ia dapat.

Setelah mendengar penjelasan panjang dari Nabi Muhammad itu, maka hilanglah kegelisahan hati sang istri sahabat.
Ia bergembira karena ternyata suaminya banyak mendapat kabar gembira saat menghadapi sakaratul maut.

Jin Ifrit Dikalahkan Ayat Kursi

Ayat kursi memiliki banyak fadilah atau keutamaan. Salah satunya adalah bisa untuk menaklukkan makhluk halus. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Saudagar kaya raya bernama Ka'ab yang membunuh Jin Ifrit dengan bacaan Ayat Kursi.

Pada Suatu hari, seorang pedagang bernama Ka'ab melakukan perjalanan ke negeri Basrah.
Ia membawa barang dagangannya untuk dijual. Setelah Ka'ab sampai di Basrah, dia mencari tempat penginapan, akan tetapi semua penginapan pada hari itu ternyata tidak ada yang kosong.
Semua telah dipesan oleh pedagang yang lebih dahulu datang sebelum Ka'ab.

Karena kehabisan penginapan, Ka'ab berinisiatif mencari tempat istirahat. Ia kemudian menemukan sebuah rumah kosong yang pada dindingnya terdapat banyak sarang laba-laba. Ka'ab akhirnya berhasil menemui pemiliknya. Ia bermaksud menyewa rumah itu selama kurang lebih satu minggu.
"Rumah ini aneh sekali, selalu menjadi pembicaraan masyarakat disini," kata si pemilik rumah.
"Apa yang terjadi pada rumahmu in?" tanya Ka'ab.
"Kata beberapa orang, rumah ini didiami oleh Jin Ifrit. Sudah banyak orang yang mencoba menempatinya, namun akhirnya mereka semua binasa," jelas si pemilik rumah.

Rumah Kosong Yang Angker
Merasa terpaksa karena tidak menemukan penginapan, akhirnya Ka'ab bersedia menempati rumah kosong itu.
"Meskipun orang lain berkata demikian, saya sanggup tinggal disini asalkan Tuan mengizinkan saya," pinta Ka'ab.
"Baiklah, saya tidak keberatan dan saya tidak akan meminta bayaran sedikitpun," jawab si pemilik rumah.

Ka'ab akhirnya tinggal di rumah kosong yang angker itu. Pada malam itu, tidak ada hal ganjil yang dialaminya. Keesokan harinya Ka'ab berkeliling untuk menjual barang dagangannya, dan ketika matahari hampir terbenam, ia kembali pulang.
Malam itu Ka'ab mengalami beberapa keanehan. Matanya sulit sekali untuk dipejamkan.

Kemudian dalam kondisi yang sepi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok bayangan hitam yang memiliki dua mata menyala-nyala seperti bara api yang mendekatinya. Maka secara spontan, Ka'ab terjaga dan membaca ayat Kursi.
Akan tetapi bayang-bayang itu tidak menghilang, malah sosok hitam itu turut mengikuti apa yang dibaca oleh Ka'ab, hingga hampir sampai pada akhir ayat Kursi.


Jin Ifrit Terbakar Sampai Jadi Abu.
Akan tetapi setelah Ka'ab membaca akhir ayat Kursi Walaa Yauduhu khifzuma wa huwal aliiyul 'adzim, bayang-bayang hitam itu lenyap dan suaranya sudah tidak terdengar lagi.
Ka'ab heran dan ia terus mengulangi bacaannya hingga ayat Kursi yang terakhir untuk memastikan bayang-bayang hitam itu benar-benar hilang. Lenyapnya Jin Ifrit itu disertai bau seperti barang yang terbakar.

Keesokan paginya, Ka'ab mendapati di salah satu sudut rumah itu terdapat bekas-bekas abu seperti ada sesuatu yang telah terbakar. Di saat itu, Ka'ab mendengar suara gaib,
"Hai Ka'ab, engkau telah membakar Jin Ifrit yang kuat."
"Dengan apa aku membakarnya?" tanya Ka'ab.
"Dengan firman Allah, alaa Yauduhu khifzuma wa huwal aliiyul 'adzim,"jawab suara gaib itu.

Demikian kisah Tewasnya Jin Ifrit oleh Ayat Kursi.
Seperti diketahui, Ayat Kursi diwahyukan kepada Rasulullah SAW diiringi oleh ribuan malaikat karena kebesaran dan kesucian ayat tersebut. Karena itu, Jin Ifrit yang kuat pun tidak mampu menahan kehebatan Ayat Kursi.

Berkah Sedekah Buah Delima

Sahabat Ali bin Abi Thalib sangat dikenal sebagai ahli sedekah.
Pada suatu hari ia pernah memberi setengah buah delima kepada orang miskin.
Tidak lama kemudian Allah SWT mengganti sedekah itu menjadi sepuluh kali lipat.


Dikisahkan Ka'ab bin Akhbar
Ketika Fatimah binti Rasulullah SAW sedang sakit, ia ditanya oleh suaminya yang tak lain adalah Ali bin Abi Thalib.
"Wahai istriku, engkau ingin buah apa?" tanya Ali dengan penuh kasih sayang.
"Suamiku, aku ingin buah delima," jawab Fatimah.

Ali terdiam sejenak, sebab ia merasa tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli buah delima. Ali ini memang menantu dari Rasulullah, namun kehidupannya sangat sederhana.
Kemudian Ali berusaha mencari pinjaman uang satu dirham dan setelah mendapatkan pinjaman, ia pergi ke pasar untuk membeli buah delima dan segera kembali pulang.


Bersedekah
Di tengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan. Maka Ali pun berhenti dan menghampirinya.
"Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?" tanya Ali.
"Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima," jawab orang sakit itu.

Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar sambil berkata dalam hati.
"Buah delima yang hanya sebiji ini sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah," katanya dalam hati.
Ali lantas teringat akan ayat Allah SWT,
"Terhadap si pengemis, engkau janganlah menghardiknya."
(QS. Ad Dhuha:10).

Kemudia Ali memutuskan untuk membelah buah delima itu menjadi dua bagian. Setengahnya untuk istrinya dan setengahnya lagi untuk orang sakit itu.
Sesampainya di rumah, ia menceritakan peristiwa itu kepada istrinya. Setelah mendengar penuturan suaminya, Fatimah merangkul serta mendekap suaminya.
"Demi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Agung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang tua itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu," kata Fatimah.

Mendapat Ganti
Dengan wajah yang cerah, Ali merasa sangat gembira dengan penuturan istrinya.
Dan tak lama kemudian, datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu.
"Siapakah Tuan?" tanya Ali.
"Aku Salman Al Farisi," jawab orang yang mengetuk pintu itu.
Setelah dibuka, Ali melihat Salman membawa sebuah nampan tertutup dan diletakkan di depan Ali.

Dari manakah nampan ini, wahai Salamn?" tanya Ali lagi.
"Dari Allah SWT untukmu melalui perantaraan Rasulullah SAW," jawab Salman.
Setelah penutup nampan tersebut dibuka, terlihat di dalamnya sembilan biji buah delima. Tetapi Ali langsung memprotes.
"Hai Salman, jika ini memang untukku, pasti jumlahnya sepuluh," protes Ali.


Kemudian Ali membacakan firman Allah SWT,
"Barang siapa berbuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali lipat amalnya (balasnya)."
(QS. Al An'am).

Salman pun langsung tertawa sambil mengembalikan sebuah delima yang masih di tangannya.
"Wahai Ali, Demi Allah, sandiwaraku ini hanya sekedar menguji sejauh mana keyakinanmu terhadap firman Allah yang engkau bacakan tadi," ucap Salman yang lantas mohon pamit pulang.

Begitulah, janji Allah selalu akan ditepati.

Kisah 70 Orang Mati Hidup Lagi

Kisah Islamiah kali ini akan menceritakan kisah tentang 70 orang yang sudah mati, namun kemudian hidup lagi. Kisah ini diambil dari ayat Al Qur'an Surat Al A'raf ayat 149, 151, 154, 155 dan Surat Al Baqarah ayat 55, 56, 63 dan 64.

Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Musa a.s.
Kala itu ada 70 umatnya mati hangus karena tersambar halilintar. Kemudian atas doa Nabi Musa a.s serta izin dari Allah SWT, mereka pun hidup lagi dan menyatakan tobat.

Setelah lolos dari kejaran Raja Fir'aun dengan membelah lautan, umat Nabi Musa a.s menjadi kaum yang taat dan ahli ibadah. Namun hal itu tidak berlangsung lama.
Petaka terjadi ketika Nabi Musa a.s pergi ke bukit Thursina, umatnya berulah dan murtad, padahal kepergian Nabi Musa a.s itu untuk menerima wahyu dari Allah SWT berupa kitab Taurat selama 40 malam.
Bahkan sebelum Nabi Musa pergi, ia telah menitipkan umatnya kepada saudaranya Nabi Harun a.s.

Kepergian Nabi Musa itu digunakan berbuat jahat oleh Samiri. Ia menyebarkan benih syirik dengan membuat patung anak lembu untuk disembah sebagai Tuhan. Patung itu dibuatnya dari emas dan untuk meyakinkannya, Samiri memasukkan tanah bekas Malaikat Jibril ke dalam perut patung tersebut.
Ajaib, patung anak lembu tersebut bisa bersuara.

Murtad
Tanah bekas Malaikat Jibril itu diambil Samiri ketika melintasi lautan yang terbelah. Sebagaimana diketahui, bahwa meskipun lautan sudah menjadi jalan, rombongan kuda jantan umat Nabi Musa tidak mau melintasi laut tersebut. Saat itulah Malaikat Jibril turun ke bumi dan mengendarai kuda betina.
Melihat kuda betina masuk laut, maka kuda jantan pun berusaha mengejar dari belakang, sehingga sampailah ke seberang dengan selamat. Bekas debu kuda Jibril inilah yang diambil oleh bangsa Samiri dan dimasukkan ke dalam patung anak lembu.




Pada hari yang ditunggu, Nabi Musa pun kembali setelah selesai bermunajat. Nabi Musa sangat marah tatkala melihat kaumnya sedang berpesta mengelilingi anak patung lembu emas, menyembahnya dan memuji-mujinya.

"Hai Samiri, apakah yang mendorongmu untuk menyesatkan kaumku, sehingga mereka kembali murtad menyembah patung yang engkau buat dari emas itu. Akibat perbuatanmu itu, engkau harus dikucilkan.
Ini adalah ganjaranmu di dunia, sedang di akhirat, nerakalah tempatmu, dan Tuhanmu yang engkau buat ini akan kami bakar dan campakkan ke dalam laut," ujar Nabi Musa.

Kemudian Nabi Musa menasehati kaumnya. Akan tetapi kaumnya bukannya bertobat, kaum tersebut justru memperlihatkan kebodohannya.
Mereka terberdaya oleh patung anak lembu yang bisa bersuara.
"Sesungguhnya kamu telah berbuat dosa besar dan menyia-nyiakan dirimu sendiri, maka bertobatlah kamu kepada Allah," ucap Nabi Musa a.s.


Bertobat.
Allah kemudian memerintahkan kepada Nabi Musa agar membawa sekelompok dari kaumnya untuk meminta ampun atas dosa mereka. Maka dipilihlah 70 orang dari kaumnya untuk pergi bersama ke Thursina. Selama bepergian itu, mereka diperintahkan untuk berpuasa, menyucikan diri.

Setiba mereka di Thursina, turunlah awan yang tebal menelimuti seluruh bukit itu,kemudian masuklah Nabi Musa diikuti oelh para pengikutnya ke dalam awan gelap itu dan segera mereka bersujud.
Dalam keadaan bersujud tersebut, tiba-tiba terdengarlah percakapan Nabi Musa dan Allah SWT. Pada saat itulah, timbul dalam hati mereka untuk melihat zat Allah dengan mata kepala mereka sendiri.

"Kami tidak akan beriman kepdamu sebelum kami melihat Allah dengan terang," ucap salah seorang kaumnya.
Sebagai jawaban atas keinginan mereka yang menunjukkan kesombongan itu, seketika itu juga Allah mengirimkan halilintar yang menyambar dan merenggut nyawa mereka.
Nabi Musa merasa sedih melihat nasib yang menimpa kelompok 70 orang itu dan ia memohon kepada Allah agar diampuni dosa mereka dan dihidupkan kembali.

Allah SWT mengabulkan doa Nabi Musa, dan Allah menghidupkan kembali kelompok 70 orang. Ketika terbangun, mereka seakan-akan seperti orang yang baru sadar dari pingsannya.
Kemudian pada kesempatan itu pula, Nabi Musa membaiat kaumnya untuk berpegang teguh kepada kitab Taurat sebagi pedoman hidup.
Demikian kira-kira kisahnya, Wallahu A'lam.

Minggu, 03 April 2011

Keteladanan Mubarok

Dikisahkan dari Mubarok, ayahanda Abdullah bin al-Mubarok bahwasanya ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan.
Suatu ketika majikannya datang padanya dan mengatakan,
"Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis, tolong ambilkan."

Mobarok pun bergegas menuju salah satu pohon dan mengambilkan delima.
Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata yang ia dapati buah delima yang diambilkan Mubarok belum begitu matang dan rasanya pun masih masam.
Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan,
"Aku minta buah yang manis malah kau beri yang masih masam.Cepat ambilkan yang manis."

Mubarok pun beranjak dan memetik dari pohon yang lain.
Setelah dipecah oleh sang majikan, didapati rasanya sama, masih masam.
Kontan saja majikannya tambah marah lagi, dan kejadian ini berlangsung sampai buah delima yang ketiga.


Sang majikan lalu bertanya,
"Kamu ini pegawai macam apa.Apa kamu tidak tahu mana delima yang manis dan yang masih masam."
Mubarok menjawab, "Tidak."
"Bagaimana bisa engkau tidak mengetahuinya," tanya majikan.
"Sebab selama aku di sini aku tidak pernah makan buah dari kebun ini," kata Mubarok.
"Kenapa engkau tidak mencoba mencicipinya," tanya majikan lagi.
"Karena Anda belum mengijinkan aku makan buah delima dari kebun ini. Dan aku tidak akan memakan makanan hingga aku mengetahui kehalalannya yaitu dengan ijinmu," Jawab Mubarok.

Pemilik kebun itu terheran-heran dengan jawaban itu, tatkala ia tahu akan kejujuran dan kehati-hatian budaknya itu.
Mubarok amat mulia dalam pandangan matanya dan bertambah pula nilai Mubarok di sisi sang majikan.
Kebetulan majikan tadi mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang.
Ia mengatakan,
"Wahai Mubarok, menurutmu siapa yang memperistri putriku ini."
"Dulu orang jahiliyah menikahkan putri mereka lantaran keturunan, orang Yahudi menikahkan karena harta, sementara orang Nasrani menikahkan karena keelokan paras.
Dan Umat Islam menikahkan karena agama, maka seyogyanya Anda mencarikan ia suami yang agamanya baik,' jawab Mubarok.

Sang majikan kembali dibuat takjub dengan jawaban Mubarok ini.
Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu istrinya, katanya,
"Menurutku, tidak ada yang lebih pantas untuk putri kita selain Mubarok."

Mubarok pun kemudian dinikahkan dengan putri majikan itu.
Di kemudian hari, istri Mubarok ini melahirkan anak yang bernama Abdullah bin al-Mubarok yang terkenal seorang alim dan zuhud, pakar hadits sekaligus Mujahid.
Sampai-sampai Al-Fudhoil bin 'Iyadh mengatakan,
"Demi pemilik Ka'bah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang semisal Ibnu Al-Mubarok."

Semoga kita dapat mencontoh sikap jujur dan kehati-hatian Mubarok ini kawan.
Amiin..