Ayat kursi memiliki banyak fadilah atau keutamaan. Salah satunya adalah bisa untuk menaklukkan makhluk halus. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Saudagar kaya raya bernama Ka'ab yang membunuh Jin Ifrit dengan bacaan Ayat Kursi.
Pada Suatu hari, seorang pedagang bernama Ka'ab melakukan perjalanan ke negeri Basrah.
Ia membawa barang dagangannya untuk dijual. Setelah Ka'ab sampai di Basrah, dia mencari tempat penginapan, akan tetapi semua penginapan pada hari itu ternyata tidak ada yang kosong.
Semua telah dipesan oleh pedagang yang lebih dahulu datang sebelum Ka'ab.
Karena kehabisan penginapan, Ka'ab berinisiatif mencari tempat istirahat. Ia kemudian menemukan sebuah rumah kosong yang pada dindingnya terdapat banyak sarang laba-laba. Ka'ab akhirnya berhasil menemui pemiliknya. Ia bermaksud menyewa rumah itu selama kurang lebih satu minggu.
"Rumah ini aneh sekali, selalu menjadi pembicaraan masyarakat disini," kata si pemilik rumah.
"Apa yang terjadi pada rumahmu in?" tanya Ka'ab.
"Kata beberapa orang, rumah ini didiami oleh Jin Ifrit. Sudah banyak orang yang mencoba menempatinya, namun akhirnya mereka semua binasa," jelas si pemilik rumah.
Rumah Kosong Yang Angker
Merasa terpaksa karena tidak menemukan penginapan, akhirnya Ka'ab bersedia menempati rumah kosong itu.
"Meskipun orang lain berkata demikian, saya sanggup tinggal disini asalkan Tuan mengizinkan saya," pinta Ka'ab.
"Baiklah, saya tidak keberatan dan saya tidak akan meminta bayaran sedikitpun," jawab si pemilik rumah.
Ka'ab akhirnya tinggal di rumah kosong yang angker itu. Pada malam itu, tidak ada hal ganjil yang dialaminya. Keesokan harinya Ka'ab berkeliling untuk menjual barang dagangannya, dan ketika matahari hampir terbenam, ia kembali pulang.
Malam itu Ka'ab mengalami beberapa keanehan. Matanya sulit sekali untuk dipejamkan.
Kemudian dalam kondisi yang sepi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok bayangan hitam yang memiliki dua mata menyala-nyala seperti bara api yang mendekatinya. Maka secara spontan, Ka'ab terjaga dan membaca ayat Kursi.
Akan tetapi bayang-bayang itu tidak menghilang, malah sosok hitam itu turut mengikuti apa yang dibaca oleh Ka'ab, hingga hampir sampai pada akhir ayat Kursi.
Jin Ifrit Terbakar Sampai Jadi Abu.
Akan tetapi setelah Ka'ab membaca akhir ayat Kursi Walaa Yauduhu khifzuma wa huwal aliiyul 'adzim, bayang-bayang hitam itu lenyap dan suaranya sudah tidak terdengar lagi.
Ka'ab heran dan ia terus mengulangi bacaannya hingga ayat Kursi yang terakhir untuk memastikan bayang-bayang hitam itu benar-benar hilang. Lenyapnya Jin Ifrit itu disertai bau seperti barang yang terbakar.
Keesokan paginya, Ka'ab mendapati di salah satu sudut rumah itu terdapat bekas-bekas abu seperti ada sesuatu yang telah terbakar. Di saat itu, Ka'ab mendengar suara gaib,
"Hai Ka'ab, engkau telah membakar Jin Ifrit yang kuat."
"Dengan apa aku membakarnya?" tanya Ka'ab.
"Dengan firman Allah, alaa Yauduhu khifzuma wa huwal aliiyul 'adzim,"jawab suara gaib itu.
Demikian kisah Tewasnya Jin Ifrit oleh Ayat Kursi.
Seperti diketahui, Ayat Kursi diwahyukan kepada Rasulullah SAW diiringi oleh ribuan malaikat karena kebesaran dan kesucian ayat tersebut. Karena itu, Jin Ifrit yang kuat pun tidak mampu menahan kehebatan Ayat Kursi.
Sabtu, 11 Juni 2011
Berkah Sedekah Buah Delima
Sahabat Ali bin Abi Thalib sangat dikenal sebagai ahli sedekah.
Pada suatu hari ia pernah memberi setengah buah delima kepada orang miskin.
Tidak lama kemudian Allah SWT mengganti sedekah itu menjadi sepuluh kali lipat.
Dikisahkan Ka'ab bin Akhbar
Ketika Fatimah binti Rasulullah SAW sedang sakit, ia ditanya oleh suaminya yang tak lain adalah Ali bin Abi Thalib.
"Wahai istriku, engkau ingin buah apa?" tanya Ali dengan penuh kasih sayang.
"Suamiku, aku ingin buah delima," jawab Fatimah.
Ali terdiam sejenak, sebab ia merasa tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli buah delima. Ali ini memang menantu dari Rasulullah, namun kehidupannya sangat sederhana.
Kemudian Ali berusaha mencari pinjaman uang satu dirham dan setelah mendapatkan pinjaman, ia pergi ke pasar untuk membeli buah delima dan segera kembali pulang.
Bersedekah
Di tengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan. Maka Ali pun berhenti dan menghampirinya.
"Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?" tanya Ali.
"Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima," jawab orang sakit itu.
Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar sambil berkata dalam hati.
"Buah delima yang hanya sebiji ini sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah," katanya dalam hati.
Ali lantas teringat akan ayat Allah SWT,
"Terhadap si pengemis, engkau janganlah menghardiknya."
(QS. Ad Dhuha:10).
Kemudia Ali memutuskan untuk membelah buah delima itu menjadi dua bagian. Setengahnya untuk istrinya dan setengahnya lagi untuk orang sakit itu.
Sesampainya di rumah, ia menceritakan peristiwa itu kepada istrinya. Setelah mendengar penuturan suaminya, Fatimah merangkul serta mendekap suaminya.
"Demi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Agung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang tua itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu," kata Fatimah.
Mendapat Ganti
Dengan wajah yang cerah, Ali merasa sangat gembira dengan penuturan istrinya.
Dan tak lama kemudian, datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu.
"Siapakah Tuan?" tanya Ali.
"Aku Salman Al Farisi," jawab orang yang mengetuk pintu itu.
Setelah dibuka, Ali melihat Salman membawa sebuah nampan tertutup dan diletakkan di depan Ali.
Dari manakah nampan ini, wahai Salamn?" tanya Ali lagi.
"Dari Allah SWT untukmu melalui perantaraan Rasulullah SAW," jawab Salman.
Setelah penutup nampan tersebut dibuka, terlihat di dalamnya sembilan biji buah delima. Tetapi Ali langsung memprotes.
"Hai Salman, jika ini memang untukku, pasti jumlahnya sepuluh," protes Ali.
Kemudian Ali membacakan firman Allah SWT,
"Barang siapa berbuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali lipat amalnya (balasnya)."
(QS. Al An'am).
Salman pun langsung tertawa sambil mengembalikan sebuah delima yang masih di tangannya.
"Wahai Ali, Demi Allah, sandiwaraku ini hanya sekedar menguji sejauh mana keyakinanmu terhadap firman Allah yang engkau bacakan tadi," ucap Salman yang lantas mohon pamit pulang.
Begitulah, janji Allah selalu akan ditepati.
Pada suatu hari ia pernah memberi setengah buah delima kepada orang miskin.
Tidak lama kemudian Allah SWT mengganti sedekah itu menjadi sepuluh kali lipat.
Dikisahkan Ka'ab bin Akhbar
Ketika Fatimah binti Rasulullah SAW sedang sakit, ia ditanya oleh suaminya yang tak lain adalah Ali bin Abi Thalib.
"Wahai istriku, engkau ingin buah apa?" tanya Ali dengan penuh kasih sayang.
"Suamiku, aku ingin buah delima," jawab Fatimah.
Ali terdiam sejenak, sebab ia merasa tidak memiliki uang sepeserpun untuk membeli buah delima. Ali ini memang menantu dari Rasulullah, namun kehidupannya sangat sederhana.
Kemudian Ali berusaha mencari pinjaman uang satu dirham dan setelah mendapatkan pinjaman, ia pergi ke pasar untuk membeli buah delima dan segera kembali pulang.
Bersedekah
Di tengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan. Maka Ali pun berhenti dan menghampirinya.
"Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?" tanya Ali.
"Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima," jawab orang sakit itu.
Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar sambil berkata dalam hati.
"Buah delima yang hanya sebiji ini sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fatimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah," katanya dalam hati.
Ali lantas teringat akan ayat Allah SWT,
"Terhadap si pengemis, engkau janganlah menghardiknya."
(QS. Ad Dhuha:10).
Kemudia Ali memutuskan untuk membelah buah delima itu menjadi dua bagian. Setengahnya untuk istrinya dan setengahnya lagi untuk orang sakit itu.
Sesampainya di rumah, ia menceritakan peristiwa itu kepada istrinya. Setelah mendengar penuturan suaminya, Fatimah merangkul serta mendekap suaminya.
"Demi Allah yang Maha Perkasa dan Maha Agung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang tua itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu," kata Fatimah.
Mendapat Ganti
Dengan wajah yang cerah, Ali merasa sangat gembira dengan penuturan istrinya.
Dan tak lama kemudian, datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu.
"Siapakah Tuan?" tanya Ali.
"Aku Salman Al Farisi," jawab orang yang mengetuk pintu itu.
Setelah dibuka, Ali melihat Salman membawa sebuah nampan tertutup dan diletakkan di depan Ali.
Dari manakah nampan ini, wahai Salamn?" tanya Ali lagi.
"Dari Allah SWT untukmu melalui perantaraan Rasulullah SAW," jawab Salman.
Setelah penutup nampan tersebut dibuka, terlihat di dalamnya sembilan biji buah delima. Tetapi Ali langsung memprotes.
"Hai Salman, jika ini memang untukku, pasti jumlahnya sepuluh," protes Ali.
Kemudian Ali membacakan firman Allah SWT,
"Barang siapa berbuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali lipat amalnya (balasnya)."
(QS. Al An'am).
Salman pun langsung tertawa sambil mengembalikan sebuah delima yang masih di tangannya.
"Wahai Ali, Demi Allah, sandiwaraku ini hanya sekedar menguji sejauh mana keyakinanmu terhadap firman Allah yang engkau bacakan tadi," ucap Salman yang lantas mohon pamit pulang.
Begitulah, janji Allah selalu akan ditepati.
Kisah 70 Orang Mati Hidup Lagi
Kisah Islamiah kali ini akan menceritakan kisah tentang 70 orang yang sudah mati, namun kemudian hidup lagi. Kisah ini diambil dari ayat Al Qur'an Surat Al A'raf ayat 149, 151, 154, 155 dan Surat Al Baqarah ayat 55, 56, 63 dan 64.
Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Musa a.s.
Kala itu ada 70 umatnya mati hangus karena tersambar halilintar. Kemudian atas doa Nabi Musa a.s serta izin dari Allah SWT, mereka pun hidup lagi dan menyatakan tobat.
Setelah lolos dari kejaran Raja Fir'aun dengan membelah lautan, umat Nabi Musa a.s menjadi kaum yang taat dan ahli ibadah. Namun hal itu tidak berlangsung lama.
Petaka terjadi ketika Nabi Musa a.s pergi ke bukit Thursina, umatnya berulah dan murtad, padahal kepergian Nabi Musa a.s itu untuk menerima wahyu dari Allah SWT berupa kitab Taurat selama 40 malam.
Bahkan sebelum Nabi Musa pergi, ia telah menitipkan umatnya kepada saudaranya Nabi Harun a.s.
Kepergian Nabi Musa itu digunakan berbuat jahat oleh Samiri. Ia menyebarkan benih syirik dengan membuat patung anak lembu untuk disembah sebagai Tuhan. Patung itu dibuatnya dari emas dan untuk meyakinkannya, Samiri memasukkan tanah bekas Malaikat Jibril ke dalam perut patung tersebut.
Ajaib, patung anak lembu tersebut bisa bersuara.
Murtad
Tanah bekas Malaikat Jibril itu diambil Samiri ketika melintasi lautan yang terbelah. Sebagaimana diketahui, bahwa meskipun lautan sudah menjadi jalan, rombongan kuda jantan umat Nabi Musa tidak mau melintasi laut tersebut. Saat itulah Malaikat Jibril turun ke bumi dan mengendarai kuda betina.
Melihat kuda betina masuk laut, maka kuda jantan pun berusaha mengejar dari belakang, sehingga sampailah ke seberang dengan selamat. Bekas debu kuda Jibril inilah yang diambil oleh bangsa Samiri dan dimasukkan ke dalam patung anak lembu.
Pada hari yang ditunggu, Nabi Musa pun kembali setelah selesai bermunajat. Nabi Musa sangat marah tatkala melihat kaumnya sedang berpesta mengelilingi anak patung lembu emas, menyembahnya dan memuji-mujinya.
"Hai Samiri, apakah yang mendorongmu untuk menyesatkan kaumku, sehingga mereka kembali murtad menyembah patung yang engkau buat dari emas itu. Akibat perbuatanmu itu, engkau harus dikucilkan.
Ini adalah ganjaranmu di dunia, sedang di akhirat, nerakalah tempatmu, dan Tuhanmu yang engkau buat ini akan kami bakar dan campakkan ke dalam laut," ujar Nabi Musa.
Kemudian Nabi Musa menasehati kaumnya. Akan tetapi kaumnya bukannya bertobat, kaum tersebut justru memperlihatkan kebodohannya.
Mereka terberdaya oleh patung anak lembu yang bisa bersuara.
"Sesungguhnya kamu telah berbuat dosa besar dan menyia-nyiakan dirimu sendiri, maka bertobatlah kamu kepada Allah," ucap Nabi Musa a.s.
Bertobat.
Allah kemudian memerintahkan kepada Nabi Musa agar membawa sekelompok dari kaumnya untuk meminta ampun atas dosa mereka. Maka dipilihlah 70 orang dari kaumnya untuk pergi bersama ke Thursina. Selama bepergian itu, mereka diperintahkan untuk berpuasa, menyucikan diri.
Setiba mereka di Thursina, turunlah awan yang tebal menelimuti seluruh bukit itu,kemudian masuklah Nabi Musa diikuti oelh para pengikutnya ke dalam awan gelap itu dan segera mereka bersujud.
Dalam keadaan bersujud tersebut, tiba-tiba terdengarlah percakapan Nabi Musa dan Allah SWT. Pada saat itulah, timbul dalam hati mereka untuk melihat zat Allah dengan mata kepala mereka sendiri.
"Kami tidak akan beriman kepdamu sebelum kami melihat Allah dengan terang," ucap salah seorang kaumnya.
Sebagai jawaban atas keinginan mereka yang menunjukkan kesombongan itu, seketika itu juga Allah mengirimkan halilintar yang menyambar dan merenggut nyawa mereka.
Nabi Musa merasa sedih melihat nasib yang menimpa kelompok 70 orang itu dan ia memohon kepada Allah agar diampuni dosa mereka dan dihidupkan kembali.
Allah SWT mengabulkan doa Nabi Musa, dan Allah menghidupkan kembali kelompok 70 orang. Ketika terbangun, mereka seakan-akan seperti orang yang baru sadar dari pingsannya.
Kemudian pada kesempatan itu pula, Nabi Musa membaiat kaumnya untuk berpegang teguh kepada kitab Taurat sebagi pedoman hidup.
Demikian kira-kira kisahnya, Wallahu A'lam.
Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Musa a.s.
Kala itu ada 70 umatnya mati hangus karena tersambar halilintar. Kemudian atas doa Nabi Musa a.s serta izin dari Allah SWT, mereka pun hidup lagi dan menyatakan tobat.
Setelah lolos dari kejaran Raja Fir'aun dengan membelah lautan, umat Nabi Musa a.s menjadi kaum yang taat dan ahli ibadah. Namun hal itu tidak berlangsung lama.
Petaka terjadi ketika Nabi Musa a.s pergi ke bukit Thursina, umatnya berulah dan murtad, padahal kepergian Nabi Musa a.s itu untuk menerima wahyu dari Allah SWT berupa kitab Taurat selama 40 malam.
Bahkan sebelum Nabi Musa pergi, ia telah menitipkan umatnya kepada saudaranya Nabi Harun a.s.
Kepergian Nabi Musa itu digunakan berbuat jahat oleh Samiri. Ia menyebarkan benih syirik dengan membuat patung anak lembu untuk disembah sebagai Tuhan. Patung itu dibuatnya dari emas dan untuk meyakinkannya, Samiri memasukkan tanah bekas Malaikat Jibril ke dalam perut patung tersebut.
Ajaib, patung anak lembu tersebut bisa bersuara.
Murtad
Tanah bekas Malaikat Jibril itu diambil Samiri ketika melintasi lautan yang terbelah. Sebagaimana diketahui, bahwa meskipun lautan sudah menjadi jalan, rombongan kuda jantan umat Nabi Musa tidak mau melintasi laut tersebut. Saat itulah Malaikat Jibril turun ke bumi dan mengendarai kuda betina.
Melihat kuda betina masuk laut, maka kuda jantan pun berusaha mengejar dari belakang, sehingga sampailah ke seberang dengan selamat. Bekas debu kuda Jibril inilah yang diambil oleh bangsa Samiri dan dimasukkan ke dalam patung anak lembu.
Pada hari yang ditunggu, Nabi Musa pun kembali setelah selesai bermunajat. Nabi Musa sangat marah tatkala melihat kaumnya sedang berpesta mengelilingi anak patung lembu emas, menyembahnya dan memuji-mujinya.
"Hai Samiri, apakah yang mendorongmu untuk menyesatkan kaumku, sehingga mereka kembali murtad menyembah patung yang engkau buat dari emas itu. Akibat perbuatanmu itu, engkau harus dikucilkan.
Ini adalah ganjaranmu di dunia, sedang di akhirat, nerakalah tempatmu, dan Tuhanmu yang engkau buat ini akan kami bakar dan campakkan ke dalam laut," ujar Nabi Musa.
Kemudian Nabi Musa menasehati kaumnya. Akan tetapi kaumnya bukannya bertobat, kaum tersebut justru memperlihatkan kebodohannya.
Mereka terberdaya oleh patung anak lembu yang bisa bersuara.
"Sesungguhnya kamu telah berbuat dosa besar dan menyia-nyiakan dirimu sendiri, maka bertobatlah kamu kepada Allah," ucap Nabi Musa a.s.
Bertobat.
Allah kemudian memerintahkan kepada Nabi Musa agar membawa sekelompok dari kaumnya untuk meminta ampun atas dosa mereka. Maka dipilihlah 70 orang dari kaumnya untuk pergi bersama ke Thursina. Selama bepergian itu, mereka diperintahkan untuk berpuasa, menyucikan diri.
Setiba mereka di Thursina, turunlah awan yang tebal menelimuti seluruh bukit itu,kemudian masuklah Nabi Musa diikuti oelh para pengikutnya ke dalam awan gelap itu dan segera mereka bersujud.
Dalam keadaan bersujud tersebut, tiba-tiba terdengarlah percakapan Nabi Musa dan Allah SWT. Pada saat itulah, timbul dalam hati mereka untuk melihat zat Allah dengan mata kepala mereka sendiri.
"Kami tidak akan beriman kepdamu sebelum kami melihat Allah dengan terang," ucap salah seorang kaumnya.
Sebagai jawaban atas keinginan mereka yang menunjukkan kesombongan itu, seketika itu juga Allah mengirimkan halilintar yang menyambar dan merenggut nyawa mereka.
Nabi Musa merasa sedih melihat nasib yang menimpa kelompok 70 orang itu dan ia memohon kepada Allah agar diampuni dosa mereka dan dihidupkan kembali.
Allah SWT mengabulkan doa Nabi Musa, dan Allah menghidupkan kembali kelompok 70 orang. Ketika terbangun, mereka seakan-akan seperti orang yang baru sadar dari pingsannya.
Kemudian pada kesempatan itu pula, Nabi Musa membaiat kaumnya untuk berpegang teguh kepada kitab Taurat sebagi pedoman hidup.
Demikian kira-kira kisahnya, Wallahu A'lam.
Minggu, 03 April 2011
Keteladanan Mubarok
Dikisahkan dari Mubarok, ayahanda Abdullah bin al-Mubarok bahwasanya ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan.
Suatu ketika majikannya datang padanya dan mengatakan,
"Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis, tolong ambilkan."
Mobarok pun bergegas menuju salah satu pohon dan mengambilkan delima.
Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata yang ia dapati buah delima yang diambilkan Mubarok belum begitu matang dan rasanya pun masih masam.
Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan,
"Aku minta buah yang manis malah kau beri yang masih masam.Cepat ambilkan yang manis."
Mubarok pun beranjak dan memetik dari pohon yang lain.
Setelah dipecah oleh sang majikan, didapati rasanya sama, masih masam.
Kontan saja majikannya tambah marah lagi, dan kejadian ini berlangsung sampai buah delima yang ketiga.
Sang majikan lalu bertanya,
"Kamu ini pegawai macam apa.Apa kamu tidak tahu mana delima yang manis dan yang masih masam."
Mubarok menjawab, "Tidak."
"Bagaimana bisa engkau tidak mengetahuinya," tanya majikan.
"Sebab selama aku di sini aku tidak pernah makan buah dari kebun ini," kata Mubarok.
"Kenapa engkau tidak mencoba mencicipinya," tanya majikan lagi.
"Karena Anda belum mengijinkan aku makan buah delima dari kebun ini. Dan aku tidak akan memakan makanan hingga aku mengetahui kehalalannya yaitu dengan ijinmu," Jawab Mubarok.
Pemilik kebun itu terheran-heran dengan jawaban itu, tatkala ia tahu akan kejujuran dan kehati-hatian budaknya itu.
Mubarok amat mulia dalam pandangan matanya dan bertambah pula nilai Mubarok di sisi sang majikan.
Kebetulan majikan tadi mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang.
Ia mengatakan,
"Wahai Mubarok, menurutmu siapa yang memperistri putriku ini."
"Dulu orang jahiliyah menikahkan putri mereka lantaran keturunan, orang Yahudi menikahkan karena harta, sementara orang Nasrani menikahkan karena keelokan paras.
Dan Umat Islam menikahkan karena agama, maka seyogyanya Anda mencarikan ia suami yang agamanya baik,' jawab Mubarok.
Sang majikan kembali dibuat takjub dengan jawaban Mubarok ini.
Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu istrinya, katanya,
"Menurutku, tidak ada yang lebih pantas untuk putri kita selain Mubarok."
Mubarok pun kemudian dinikahkan dengan putri majikan itu.
Di kemudian hari, istri Mubarok ini melahirkan anak yang bernama Abdullah bin al-Mubarok yang terkenal seorang alim dan zuhud, pakar hadits sekaligus Mujahid.
Sampai-sampai Al-Fudhoil bin 'Iyadh mengatakan,
"Demi pemilik Ka'bah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang semisal Ibnu Al-Mubarok."
Semoga kita dapat mencontoh sikap jujur dan kehati-hatian Mubarok ini kawan.
Amiin..
Suatu ketika majikannya datang padanya dan mengatakan,
"Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis, tolong ambilkan."
Mobarok pun bergegas menuju salah satu pohon dan mengambilkan delima.
Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata yang ia dapati buah delima yang diambilkan Mubarok belum begitu matang dan rasanya pun masih masam.
Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan,
"Aku minta buah yang manis malah kau beri yang masih masam.Cepat ambilkan yang manis."
Mubarok pun beranjak dan memetik dari pohon yang lain.
Setelah dipecah oleh sang majikan, didapati rasanya sama, masih masam.
Kontan saja majikannya tambah marah lagi, dan kejadian ini berlangsung sampai buah delima yang ketiga.
Sang majikan lalu bertanya,
"Kamu ini pegawai macam apa.Apa kamu tidak tahu mana delima yang manis dan yang masih masam."
Mubarok menjawab, "Tidak."
"Bagaimana bisa engkau tidak mengetahuinya," tanya majikan.
"Sebab selama aku di sini aku tidak pernah makan buah dari kebun ini," kata Mubarok.
"Kenapa engkau tidak mencoba mencicipinya," tanya majikan lagi.
"Karena Anda belum mengijinkan aku makan buah delima dari kebun ini. Dan aku tidak akan memakan makanan hingga aku mengetahui kehalalannya yaitu dengan ijinmu," Jawab Mubarok.
Pemilik kebun itu terheran-heran dengan jawaban itu, tatkala ia tahu akan kejujuran dan kehati-hatian budaknya itu.
Mubarok amat mulia dalam pandangan matanya dan bertambah pula nilai Mubarok di sisi sang majikan.
Kebetulan majikan tadi mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang.
Ia mengatakan,
"Wahai Mubarok, menurutmu siapa yang memperistri putriku ini."
"Dulu orang jahiliyah menikahkan putri mereka lantaran keturunan, orang Yahudi menikahkan karena harta, sementara orang Nasrani menikahkan karena keelokan paras.
Dan Umat Islam menikahkan karena agama, maka seyogyanya Anda mencarikan ia suami yang agamanya baik,' jawab Mubarok.
Sang majikan kembali dibuat takjub dengan jawaban Mubarok ini.
Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu istrinya, katanya,
"Menurutku, tidak ada yang lebih pantas untuk putri kita selain Mubarok."
Mubarok pun kemudian dinikahkan dengan putri majikan itu.
Di kemudian hari, istri Mubarok ini melahirkan anak yang bernama Abdullah bin al-Mubarok yang terkenal seorang alim dan zuhud, pakar hadits sekaligus Mujahid.
Sampai-sampai Al-Fudhoil bin 'Iyadh mengatakan,
"Demi pemilik Ka'bah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang semisal Ibnu Al-Mubarok."
Semoga kita dapat mencontoh sikap jujur dan kehati-hatian Mubarok ini kawan.
Amiin..
Selasa, 29 Maret 2011
Sedekah Menunda Kematian Bagian Dua
Keesokan harinya Nabi Ibrahim berjalan menuju rumah pemuda tersebut, dan alangkah terkejutnya Nabi Ibrahim melihat pemuda itu masih dalam keadaan hidup.
Dan pemuda itu akhirnya melangsungkan pernikahan dengan lancar.
Nabi Ibrahim turut bahagia melihat muridnya menikah.
Walau senang, terbesit rasa sedih, rasa kasihan karena Nabi Ibrahim tahu bahwa kebahagiaannya tak akan lama.
Namun keadaan berkata lain.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabi Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya, hingga usia anaj muda ini 70 tahun.
Nabi Ibrahim merasa penasaran, dan tak lama kemudian malaikat datang menemuinya.
Langsung saja Nabi Ibrahim menanyakan tentang keganjilan itu, karena Malaikat tidak pernah akan berbohong.
"Apa gerangan yang membuat Alloh SWT menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda itu dulu?" tanya Nabi Ibrahim.
"Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Alloh memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut hingga engkau masih melihatnya hidup hingga sekarang," jelas Malaikat.
Kematian memang di tangan Alloh, kawan.
Memajukan atau memundurkan kematian adalah hak Alloh, dan Alloh memberitahu lewat RasulNya.
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur.
Jadi, bila disebut ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah SEDEKAH.
Jadi tunggu apa lagi, mari kita bersedekah.
Dan pemuda itu akhirnya melangsungkan pernikahan dengan lancar.
Nabi Ibrahim turut bahagia melihat muridnya menikah.
Walau senang, terbesit rasa sedih, rasa kasihan karena Nabi Ibrahim tahu bahwa kebahagiaannya tak akan lama.
Namun keadaan berkata lain.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabi Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya, hingga usia anaj muda ini 70 tahun.
Nabi Ibrahim merasa penasaran, dan tak lama kemudian malaikat datang menemuinya.
Langsung saja Nabi Ibrahim menanyakan tentang keganjilan itu, karena Malaikat tidak pernah akan berbohong.
"Apa gerangan yang membuat Alloh SWT menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda itu dulu?" tanya Nabi Ibrahim.
"Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Alloh memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut hingga engkau masih melihatnya hidup hingga sekarang," jelas Malaikat.
Kematian memang di tangan Alloh, kawan.
Memajukan atau memundurkan kematian adalah hak Alloh, dan Alloh memberitahu lewat RasulNya.
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur.
Jadi, bila disebut ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah SEDEKAH.
Jadi tunggu apa lagi, mari kita bersedekah.
Sedekah Menunda Kematian
Allohu Akbar.
Allohu Akbar.
Alloh Maha Besar.
Alloh Maha Kuasa.
Hanya Alloh sajalah yang mengetahui kematian seseorang.
Ada suatu kisah islami yang patut dijadikan teladan, dijadikan bahan renungan.
Kisah seorang pemuda yang berhasil menunda kematian hingga menjadi kakek hanya dengan bersedah.
Kisahnya...
Suatu hari Nabi Ibrahim didatangi oleh salah satu muridnya, dan ia menceritakan bahwa ia akan segera menikah besok pagi.
Setelah berbincang sejenak, anak muda tersebut meninggalkan Nabi Ibrahim.
Beberapa saat kemudian, Malaikat Maut mendatangi Nabi Ibrahim dan bertanya,
"Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?" tanya Malaikat Maut.
"Yang anak muda tadi adalah sahabat sekaligus muriduk," jawab Nabi Ibrahim.
"Ada apa dia datang menemuimu?" tanya Malaikat Maut lagi.
"Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahan besok pagi," jawab Nabi Ibrahim.
"Wahai Ibrahim, sayang sekali umur anak itu tidak akan sampai besok pagi," jelas Malaikat Maut.
Setelah berkata demikian, Malaikat Maut pergi meninggalkan Nabi Ibrahim.
Berlanjut ke Sedekah Menunda Kematian Bagian 2
Allohu Akbar.
Alloh Maha Besar.
Alloh Maha Kuasa.
Hanya Alloh sajalah yang mengetahui kematian seseorang.
Ada suatu kisah islami yang patut dijadikan teladan, dijadikan bahan renungan.
Kisah seorang pemuda yang berhasil menunda kematian hingga menjadi kakek hanya dengan bersedah.
Kisahnya...
Suatu hari Nabi Ibrahim didatangi oleh salah satu muridnya, dan ia menceritakan bahwa ia akan segera menikah besok pagi.
Setelah berbincang sejenak, anak muda tersebut meninggalkan Nabi Ibrahim.
Beberapa saat kemudian, Malaikat Maut mendatangi Nabi Ibrahim dan bertanya,
"Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?" tanya Malaikat Maut.
"Yang anak muda tadi adalah sahabat sekaligus muriduk," jawab Nabi Ibrahim.
"Ada apa dia datang menemuimu?" tanya Malaikat Maut lagi.
"Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahan besok pagi," jawab Nabi Ibrahim.
"Wahai Ibrahim, sayang sekali umur anak itu tidak akan sampai besok pagi," jelas Malaikat Maut.
Setelah berkata demikian, Malaikat Maut pergi meninggalkan Nabi Ibrahim.
Berlanjut ke Sedekah Menunda Kematian Bagian 2
Rabu, 02 Maret 2011
Pedihnya Sakaratul Maut
Kisah Islamiah kembali hadir dengan kisah islami lain yang bagus untuk dijadikan teladan.
Rugi lo kalau tidak membacanya.
Penulis berharap agar kisah-kisah yang ada di blog ini bisa dijadikan suri tauladan juga.
Kali ini akan diceritakan tentang cerita betapa sakitnya saat sakaratul maut, saat menjelang ajal, saat tercabutnya roh dari jasad manusia.
Adalah Nabi Idris yang pernah menyampaikan hal ini dan diwariskan beritanya.
Dengan izin Allah SWT, akhirnya Nabi Idris dapat merasakan betapa sakitnya sakaratul maut.
Ia mengibaratkan sakitnya kayak hewan yang dikuliti hidup-hidup.
Nabi Idris a.s.
Suatu ketika Nabi Idris telah dikunjungi oleh Malaikat Izrail.
Kemudian Beliau bertanya,
"Hai Malaikat Izrail, kedatanganmu ini untuk mencabut nyawa atau berkunjung."
Lalu Malaikat Izrail menjawab bahwa kedatangannya itu untuk berkunjung dengan izin Allah.
Setelah mendengar jawaban Malaikat Izrail, Nabi Idris berkata lagi,
"Hai Malaikat Izrail, saya ada keperluan denganmu."
"Kepentingan apa itu?" kata Malaikat Izrail.
Setelah sejenak menghela nafas, Nadi Idris pun menjawab,
"Kepentinganku denganmu adalah supaya engkau mencabut nyawaku dan kemudian Allah menghidupkan kembali agar aku dapat lebih giat beribadah kepada Allah setelah aku merasakan sakaratul maut."
Malaikat Izrail keheranan mendengar permintaan Nabi Idris.
Tapi Allah memberi wahyu kepada Malaikat Izrail agar dia mencabut nyawa Nabi Idris.
Seketika itu juga Malaikat Izrail mencabut nyawa Nabi Idris a.s.
Pedihnya Sakaratul Maut.
Setelah menjalankan tugasnya itu Malaikat Izrail menangis atas kematian Nabi Idris sambil memohon kepada Allah untuk menghidupkan kembali Nabi Idris a.s.
Kemudian Allah mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka Nabi Idris pun hidup kembali.
Malaikat Izrail bertanya kepada Nabi Idris a.s.
"Hai Saudaraku, bagaimana rasanya sakaratul maut itu?"
Nabi Idris a.s menjawab,
"Sesungguhnya rasa sakaratulmaut itu saya umpamakan binatang yang hidup dilepas kulitnya dalam keadaan hidup-hidup dan begitulah rasanya sakaratul maut bahkan lebih seribu kali sakit."
Kata Malaikat Maut,
"Secara halus dan berhati-hati aku mencabut nyawa yang seperti itu selama-lamanya."
Itulah sahabatku sekelumit kisah tentang pedihnya sakaratul maut.
Seorang Nabi pun juga merasakan hal yang sama dan terasa sangat pedihnya kala nyawa terlepas dari badan.
Semogo sedikit kisah di atas bisa sebagai pelajaran dan renungan untuk kita semua agar selalu meningkatkan bekal sebelum nyawa terlepas.
Amii.
Rugi lo kalau tidak membacanya.
Penulis berharap agar kisah-kisah yang ada di blog ini bisa dijadikan suri tauladan juga.
Kali ini akan diceritakan tentang cerita betapa sakitnya saat sakaratul maut, saat menjelang ajal, saat tercabutnya roh dari jasad manusia.
Adalah Nabi Idris yang pernah menyampaikan hal ini dan diwariskan beritanya.
Dengan izin Allah SWT, akhirnya Nabi Idris dapat merasakan betapa sakitnya sakaratul maut.
Ia mengibaratkan sakitnya kayak hewan yang dikuliti hidup-hidup.
Nabi Idris a.s.
Suatu ketika Nabi Idris telah dikunjungi oleh Malaikat Izrail.
Kemudian Beliau bertanya,
"Hai Malaikat Izrail, kedatanganmu ini untuk mencabut nyawa atau berkunjung."
Lalu Malaikat Izrail menjawab bahwa kedatangannya itu untuk berkunjung dengan izin Allah.
Setelah mendengar jawaban Malaikat Izrail, Nabi Idris berkata lagi,
"Hai Malaikat Izrail, saya ada keperluan denganmu."
"Kepentingan apa itu?" kata Malaikat Izrail.
Setelah sejenak menghela nafas, Nadi Idris pun menjawab,
"Kepentinganku denganmu adalah supaya engkau mencabut nyawaku dan kemudian Allah menghidupkan kembali agar aku dapat lebih giat beribadah kepada Allah setelah aku merasakan sakaratul maut."
Malaikat Izrail keheranan mendengar permintaan Nabi Idris.
Tapi Allah memberi wahyu kepada Malaikat Izrail agar dia mencabut nyawa Nabi Idris.
Seketika itu juga Malaikat Izrail mencabut nyawa Nabi Idris a.s.
Pedihnya Sakaratul Maut.
Setelah menjalankan tugasnya itu Malaikat Izrail menangis atas kematian Nabi Idris sambil memohon kepada Allah untuk menghidupkan kembali Nabi Idris a.s.
Kemudian Allah mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka Nabi Idris pun hidup kembali.
Malaikat Izrail bertanya kepada Nabi Idris a.s.
"Hai Saudaraku, bagaimana rasanya sakaratul maut itu?"
Nabi Idris a.s menjawab,
"Sesungguhnya rasa sakaratulmaut itu saya umpamakan binatang yang hidup dilepas kulitnya dalam keadaan hidup-hidup dan begitulah rasanya sakaratul maut bahkan lebih seribu kali sakit."
Kata Malaikat Maut,
"Secara halus dan berhati-hati aku mencabut nyawa yang seperti itu selama-lamanya."
Itulah sahabatku sekelumit kisah tentang pedihnya sakaratul maut.
Seorang Nabi pun juga merasakan hal yang sama dan terasa sangat pedihnya kala nyawa terlepas dari badan.
Semogo sedikit kisah di atas bisa sebagai pelajaran dan renungan untuk kita semua agar selalu meningkatkan bekal sebelum nyawa terlepas.
Amii.
Langganan:
Postingan (Atom)


